Cara Pemeriksaan SADARI

Cara Pemeriksaan SADARI:
Menurut Sarwono (1999, 473) cara SADARI :
1. Perhatikan dan amati:
a. Perhatikan dengan teliti payudara anda di muka cermin tanda berpakaian, dengan kedua lengan lurus ke bawah.
b. Perhatikan bila ada benjolan atau ada perubahan bentuk pada payudara.
c. Amati dengan teliti, sebab anda sendirilah yang mengenal tubuh anda.
d. Angkatlah kedua lengan lurus ke atas dan ulangi periksa seperti di atas.
2. Dengan kedua siku mengarah ke samping tekanlah telapak tangan anda yang satu kuat-kuat pada yang lain. Cara ini akan menegangkan otot-otot dada anda dan perubahan-perubahan seperti cekungan (dekok) dan benjolan akan lebih kelihatan.
3. Tindakan berikutnya :
a. Berbaringlah dengan tangan kanan di bawah kepala
b. Letakkanlah bantal kecil di bawah punggung kanan
c. Raba seluruh permukaan payudara kanan dengan gerakan pada keterangan
d. Perhatikan bila ada benjolan yang mencurigakan
4. Cara meraba
a. Rabalah dengan tiga ujung jari tengah yang dirapatkan
b. Lakukan gerakan memutar dengan tekanan lembut tetapi mantap dimulai dari pinggir dengan mengikuti arah putaran jarum jam.
5. Lakukan hal yang sama seperti di atas tetapi dengan tangan kiri di bawah  kepala, sedang tangan kanan meraba payudara kiri anda.
6. Lakukan pada kedua payudara
Pencetlah pelan-pelan daerah sekitar puting dan amatilah apakah keluar cairan yang tidak normal (tidak biasa).
7. Bagilah payudara menjadi 4 bagian, ¼ atas dekat axilla. Beri perhatian khusus karena di tempat tersebut sering ditemukan tumor payudara 
2.2.6 Hasil pemeriksaan SADARI
1. Melihat sendiri perubahan payudara
a. Terjadi pigmentasi kulit payudara (perubahan warna, bertambah hitam atau menjadi putih). 
b. Perubahan letak putting susu (retraksi puting susu).
c. Perubahan kulit payudara menjadi keriput.
d. Puting susu mengeluarkan cairan darah.
e. Pergerakan payudara terbatas, artinya saat menggerakkan tangan payudara tidak ikut bergerak.
f. Terdapat luka atau ulkus pada payudara
Pada waktu melihat payudara dapat menggunakan cermin sehingga mudah terlihat perubahan.
2. Meraba payudara sendiri
Meraba payudara untuk mengetahui benjolan adalah sebagai berikut :
a. Menemukan benjolan pada payudara 
- Bagaimana pergerakan benjolan dengan sekitarnya
- Saat meraba apakah terasa nyeri
- Di bagian mana terdapat benjolan
b. Memijat puting payudara
- Apakah terdapat pengeluaran cairan
- Apakah dibawah puting payudara terdapat tumor 
- Bagaimana pergerakan puting payudara
3. Pemeriksaan ketiak
a. Apakah terdapat benjolan pada ketiak
b. Bagaimana pergerakan tumor tersebut
c. Bagaimana perubahannya
READ MORE - Cara Pemeriksaan SADARI

Pencegahan Infeksi pada Proses Persalinan

Pencegahan Infeksi pada Proses Persalinan:
WHO (World Health Oraganization) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan, wanita berkemungkinan 1:18 meninggal akibat kehamilan / persalinan selama kehidupan Negara Afrika 1:4, sedangkan di Amerika Utara 1:6.366 lebih dari 50% kematian  di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi yang ada serta biaya relatif rendah (Saifuddin, 2006:3).
Di Indonesia Angka Kematian Ibu (AKI) menempati angka tertinggi di Asia  Tenggara, yaitu sebesar 307 per seratus ribu kelahiran hidup. Itu berarti ada 50 ribu meninggal setiap harinya, menurut data tahun 2003, (www.beritaindonesia .com)
Di Propinsi Lampung Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan dan Angka Kematian Bayi (AKB) tergolong tinggi secara nasional. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI di Propinsi Lampung 307 diantaranya meninggal dari 100 ribu kelahiran hidup. Sementara Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 55 per 1.000 kelahiran atau dalam setiap 1000 bayi yang lahir, 55 diantaranya meninggal dunia (Lampung- - bkkbn online).

Persalinan yang bersih dan aman sebagai pilar ketiga Safe Motherhood yang di kategorikan sebagai pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, pada tahun 1997 baru mencapai 60 % (Saifuddin, 2006 :  7). Pencegahan infeksi merupakan aspek ketiga dari Lima Benang Merah yang terkait dalam asuhan perasalinan yang bersih dan aman dan juga merupakan salah satu usaha untuk melindungi ibu dan bayi baru lahir (Depkes RI 2004 : 1-1).  
Tindakan pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal/pasca persalinan/bayi baru lahir/saat menatalaksana penyulit. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya. Juga upaya-upaya menurunkan resiko terjangkit atau terinfeksi mikroorganisme yang menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya  (Buku Acuan APN, 2004 : 1-8). Mengingat bahwa infeksi dapat ditularkan melalui darah, sekret vagina, air mani, cairan amnion dan cairan  tubuh lainnya maka setiap petugas yang bekerja di lingkungan yang mungkin terpapar hal-hal tersebut mempunyai resiko untuk tertular bila tidak mengindahkan prosedur penegahan infeksi (Saifuddin, 2006:15).

READ MORE - Pencegahan Infeksi pada Proses Persalinan

Pengetahuan Remaja tentang kanker Payudara

Pengetahuan Remaja tentang kanker Payudara:
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang bermula ketika sel pada payudara mulai membelah dan tumbuh dalam cara yang tidak terkontrol dan abnormal. Sebagaimana kanker yang lain, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Wanita-wanita yang infertil (yang tidak memiliki anak) memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terkena kanker payudara. Penyakit ini juga memiliki kecenderungan bersifat menurun, artinya seorang wanita dengan ibu penderita kanker payudara, memiliki kemungkinan lebih besar untuk terserang kanker ini. Wanita yang mendapatkan menstruasi pertama pada usia yang sangat awal (kurang dari 12 tahun) atau wanita yang terlambat mengalami menopause (di atas 50 tahun) memiliki kemungkinan yang lebih besar terkena kanker ini. Begitu pula dengan para wanita yang menderita penyakit kista pada payudaranya, wanita yang telah menderita kanker pada payudara yang satunya, atau wanita yang memiliki banyak papiloma (tonjolan-tonjolan kecil) pada payudaranya (Tjahjadi, 2008).
Menurut WHO 8-9% wanita akan mengalami kanker payudara. Hal ini menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui pada wanita. Setiap tahun lebih dari 250,000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang lebih 175,000 di Amerika Serikat. Masih menurut WHO, tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta wanita terdiagnosis kanker payudara dan lebih dari 700,000 meninggal karenanya.
Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian pada wanita akibat kanker. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat 44,000 pasien meninggal karena penyakit ini sedangkan di Eropa lebih dari 165,000. Setelah menjalani perawatan, sekitar 50% pasien mengalami kanker payudara stadium akhir dan hanya bertahan hidup 18–30 bulan (Hompedin, 2008).
Setiap tahun lebih dari 580.000 kasus baru ditemukan di berbagai negara berkembang dan kurang lebih 372.000 pasien meninggal karena penyakit ini. Data WHO menunjukkan bahwa 78% kanker payudara terjadi pada wanita usia 50 tahun ke atas. Hanya 6%-nya terjadi pada mereka yang berusia kurang dari 40 tahun. Meski demikian, kian hari makin banyak penderita kanker payudara yang berusia 30-an bahkan kurang (Borobudurbiz Team, 2008).
Pada 2007, the American Cancer Society (ACS) memperkirakan hampir 178.000 perempuan akan terdiagnosis kanker payudara. Jumlah ini ditambah dengan 2 juta perempuan yang memiliki riwayat penyakit ini. Di Indonesia jumlah penderita kanker payudara menduduki tingkat kedua setelah kanker mulut rahim. Namun, sejak 1990, rata-rata kematian akibat kanker payudara pada perempuan telah menurun. Penurunan angka kematian terjadi karena sudah banyak perempuan yang melakukan deteksi dini plus pengobatan yang semakin maju dari tahun ke tahun. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2006, menunjukkan bahwa insiden, atau kasus baru kanker payudara menurun dari periode pertengahan 2002 - 2003. Sedangkan, menurut statistik ACS dari 2001- 2003 menunjukkan, jumlah kasus baru kanker payudara tidak meningkat setelah 20 tahun sebelumnya terjadi kelonjakan. Banyak faktor yang menyebabkan perubahan ini, di antaranya sosialiasi mendeteksi dini penyakit, atau berkurangnya penggunaan terapi sulih hormon bagi perempuan menopause. Sayangnya, penyebab dan dampak perubahan tersebut masih sulit dipertahankan, terutama dalam jangka waktu pendek (Anonim, 2008). 

READ MORE - Pengetahuan Remaja tentang kanker Payudara

Kontak Pertama Kali denganTenaga Kesehatan (K1)

Kontak Pertama Kali denganTenaga Kesehatan (K1):
Kehamilan merupakan saat yang menyenangkan dan dinanti-nanti, tetapi juga dapat menjadi kegelisahan dan keprihatinan. Pembicaran secara efektif kepada ibu dan keluarganya dapat membantu membangun kepercayaan kepada petugas kesehatan.
Didalam kehamilan diperlukan pengawasan  atau pemeriksaan secara teratur atau yang lebih dikenal dengan Antenatal Care (ANC). ANC merupakan bagian terpentig dari kehamilan. Dengan  memeriksakan secara teratur diharapkan dapat mendeteksi lebih dini keadaan-keadaan yang mengandung risiko kehamilan dan atau persalinan, baik bagi ibu maupun janin ( Prawirohardjo S, 2002 ).
Pemeriksaan kehamilan dapat dilaksanakan dengan kunjungan ibu hamil. Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dengan petugas kesehatan yang memberi pelayanan antenatal untuk mendapatkn pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan, tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang dikunjungi petugas kesehatan dirumahnya atau diposyandu. Kunjungan baru ibu hamil ( K1 ) Adalah Kontak ibu hamil yang pertama kali dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan  kehamilan dengan standart 7T.  Sedangkan kunjungan ibu hamil yang keempat  ( K4 ) Adalah Kontak ibu yang keempat atau lebihdengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan.
Hubungan K1 dan K4 secara langsung adalah jika ibu memeriksakan kehamilannya yang pertama kali dan kontak ibu yang keempat  atau lebih dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan hubungannya adalah dapat memantau  kemajuan kehamilan, mangenali sejak dini adanya ketidak normalan atau komplikasi pada ibu dan janin.
Tujuan K1 Adalah Untuk menfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan jalan menegakkan hubungan kepercayaan dengan ibu, Mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa, Mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan. Asuhan itu penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kelahiran berjalan normal dan tetap demikian seterusnya ( JHPIEGO, 2001 ).
Agar tujuan tersebut tercapai, pemeriksaan kehamilan harus segera dilaksanakan begitu terjadi kehamilan yaitu ketika haidnya terlambat sekurang-kurangnya satu bulan. Dan dilaksanakan terus secara berkala selama kehamilan. Ibu harus melaksanakan pemeriksaan antenatal paling sedikit 4x. Satu kali kunjungan pada trimester I, Satu kali kunjungan pada trimester II dan dua kali kunjungan pada trimester III ( Prawirohardjo S, 2002 )
Kebanyakan mereka harus menyadari  bahwa mereka sedang hamil sewaktu kehamilan mereka sudah berusia 1 sampai 2 bulan. Dan disaat mereka memeriksakan diri ke dokter biasanya kehamilannya sudah berusia 2 atau 3 bulan, 3 bulan pertama kehamilan adalah masa yang sangat penting. Banyak hal-hal penting terjadi sebelum anda menyadari bahwa anda hamil atau sebelum anda pergi ke dokter.
Pada tahun lalu angka kematian maternal dan neonatal  di Indonesia masih tinggi sekitar 248 per 100.000 kelahiran hidup ( SDKI, 2007 ) . Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian tersebut, pemerintah mencanangk target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2015 adalah angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan pemerintah mencanangkan making pregnancy safer yang pada dasarnya menekankan pada penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang efektif. Selain itu upaya intervensi strategis dalam pendekatan safe motherhood yang terdiri dari 4 pilar yaitu :
a. KB ( Keluarga Berencana )
b. Pelayanan Antenatal
Untuk mencegah adanya komplikasi obstetri dan memastikan bahwa komplikasi di deteksi sedini mungkin.
c. Persalinan yang aman
d. Pelayanan Obstetri esensial
Memastikan bahwa pelayanan obstetric untuk resiko tinggi dan komplikasi tersedi bagi ibu hamil yang membutuhkan. ( Prawirohardjo S, 2007 )
Pelayanan antenatal sebagai pilar ke-2 merupakan asuhan yang memberikan untuk ibu sebelum kelahiran. Pengawasan sebelum lahir terbukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik, sehingga dapat mentoleransi respon baik selama kelahiran. 
Angka kematian ibu merupakan barometer pelayanan kesehatan ibu di suatu Negara. Bila angka kematian ibu masih tinggi berarti pelayanan kesehatan ibu belum baik, Sebaliknya bila angka kematian ibu rendah berarti pelayanan kesehatan ibu menunjukkan ada peningkatan.
Pengetahuan dapat mempengaruhi seseorang secara ilmiah dan mendasari dalam mengambil keputusan rasional dan efektif dalam menerima perilaku baru yang akan menghasilkan persepsi yang positif dan negative. ( Nursalam, 2001 ). Dengan banyak pengetahuan tentang pemeriksaan kehamilan ibu menjadi banyak tahu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.
Ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan dipengaruhi oleh beberapa factor penyebab antara lain : faktor pengetahuan, factor pendidikan, factor usia, dan factor ekonomi ( Nursalam, 2001 ) Bila ibu hamil tidak tidak melakukan pemeriksaan kehamilan dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut : Tidak terdeteksi secara dini adanya komplikasi selama kehamilan, ibu tidak mengetahui kondisi pertumbuhan dan perkembangan bayi, dan ibu tidak mengetahui tafsiran persalinannya ( Syaifuddin, 2000 )
READ MORE - Kontak Pertama Kali denganTenaga Kesehatan (K1)

Tingkat Kecemasan Ibu dalam Menghadapai Persalinan

Tingkat Kecemasan Ibu dalam Menghadapai Persalinan:
Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS), disebutkan bahwa visi rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi persalinan yang aman.
Perawatan antenatal yang teratur dapat menurunkan secara mendasar mortalitas dan morbiditas Ibu dan anak, perawatan antenatal yang memadai juga dapat mengurangi risiko dalam persalinan.
Risiko dalam persalinan yang sering dijumpai yaitu perpanjangan dari kelahiran bayi, partus lama, hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan yaitu : power, passage, passenger, psikis, penolong.
Faktor psikis dalam menghadapi persalinan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi lancar tidaknya proses kelahiran.  Dukungan yang penuh dari anggota keluarga penting artinya bagi seorang Ibu bersalin terutama dukungan dari suami sehingga memberikan support moril terhadap Ibu (Kartini Kartono,  1986 : 192).
Namun demikian faktor psikis selama ini belum mendapatkan perhatian oleh penolong persalinan, hal ini sesuai dengan pendapat (Kartini Kartono) yang menyatakan bahwa para dokter dan bidan hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan kondisi psikis wanita tersebut, sebab mereka biasanya disibukkan oleh faktor-faktor somatis (jasmaniah).  Pada umumnya para dokter dan bidan menganggap tugas mereka telah selesai apabila bayinya sudah lahir dengan selamat dan ibunya tidak menunjukkan tanda-tanda patologis (Kartini Kartono, 1986).
Sejalan dengan hal tersebut, di masyarakat paradigma persalinan masih menganggap persalinan itu merupakan pertaruhan hidup dan mati, sehingga wanita yang akan melahirkan mengalami ketakutan-ketakutan, khususnya takut mati baik bagi dirinya sendiri ataupun bayi yang akan dilahirkannya (Kartini Kartono,  1986:190). 
Melihat fenomena di atas, menunjukkan bahwa proses persalinan selain dipengaruhi oleh faktor passage, passanger, power dan penolong, faktor psikis juga sangat menentukan keberhasilan persalinan.  Dimana kecemasan atau ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (intra psikis) dapat mengakibatkan persalinan menjadi lama/partus lama atau perpanjangan Kala II (Depkes RI Pusdiknakes).

READ MORE - Tingkat Kecemasan Ibu dalam Menghadapai Persalinan

Pengetahuan Remaja tentang SADARI

Pengetahuan Remaja tentang SADARI:
Di dunia, kematian akibat kanker diperkirakan sekitar 4,3 juta pertahun 2,3 juta diantaranya ditemukan dinegara berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 3,9 juta per tahun dan terdapat di negara berkembang sekitar 3 juta (Hidayati, 2001: 195).
Di negara maju insiden kanker payudara 87 per 100.000, angka kematiannya kira-kira 27 per 100.000 (Tambunan 1995 : 26). Di antara tumor ganas ginekologi kanker payudara menduduki tempat nomor 2 dari insiden semua tipe kanker di Indonesia. Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks diurutan pertama dengan per evaluasi 18,62% disusul kanker payudara 11,22% dan kanker kulit 8,03% (Hidayati 2001 : 197). Secara statistik di Amerika dan juga di Indonesia 95% dari semua tumor/kanker payudara ditemukan oleh penderita itu sendiri (Ramli, 2000 : 75).
Dewasa ini di Indonesia penyakit kanker dirasakan semakin menonjol, hal ini dapat dilihat dari sebagai laporan rumah sakit yang menyebutkan penyakit kanker cenderung menjadi salah satu penyebab utama kematian pada usia produktif. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukan proporsi penyebab kematian karena kanker semakin meningkat dari 1,3% pada tahun 1976 menjadi 3,4% pada tahun 1980, 4,3% pada tahun 1986 dan 4,8% pada tahun 1992.
Kira-kira sepertiga dari penyakit kanker dapat ditemukan cukup dini untuk dapat disembuhkan. Di bagian bedah FKUI/RSCM selama tahun 1971 – 1978 dari 735 kasus penderita payudara 267 (40%) masih merupakan kasus yang dapat dioperasi. Selama tahun 1988 sampai dengan 1996 dari 566 kasus kanker payudara 185 (32,6%) masih menunjukan kasus-kasus yang bisa diatasi.
Masa remaja merupakan suatu periode rentan kehidupan manusia yang sangat kritis karena merupakan tahap transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Pada tahap ini sering kali remaja tidak menyadari bahwa suatu tahap perkembangan sudah dimulai, namun yang pasti setiap remaja akan mengalami suatu perubahan baik fisik, emosional maupun sosial (Dianawati, 2003: 25).
Pada masa remaja berlangsung proses-proses perubahan fisik maupun perubahan biologis yang dalam perkembangan selanjutnya berada di bawah kontrol hormon-hormon khusus. Pada wanita, hormon-hormon ini bertanggung jawab atas permulaan proses ovulasi dan menstruasi, juga pertumbuhan payudara. Pada masa ini sudah seharusnya para remaja putri mulai memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya, juga halnya dengan payudara dan kesehatannya. Payudara merupakan estetika kaum wanita dan daya tarik seksual yang utama sejak dahulu kala di dalam bermacam-macam masyarakat, payudara wanita merupakan fokus obyek seni. Tetapi di zaman dan kebudayaan beberapa tahun belakangan ini ada sambutan hangat terhadap pemberian ASI dengan segala keuntungannya bagi ibu maupun bayinya. Dengan seluruh aktifitas di dalam payudara sehubungan dengan perkembangan dalam kehidupan seorang wanita dan juga perubahan siklus yang biasa disebabkan oleh periode menstruasi teratur, sebaiknya semua wanita bermawas diri terhadap masalah yang mungkin timbul pada payudara, sebaiknya pemeriksaan dapat dimulai dari waktu remaja dengan pemeriksaan yang rutin dan teratur untuk mendeteksi tanda-tanda dini persoalan payudara merupakan kebiasaan sangat baik yang harus dilakukan sejak dini. Seorang remaja putri dapat memeriksa payudara sendiri (SADARI) pada saat mandi dengan perabaan untuk mengetahui adanya benjolan pada payudara. Bagi banyak wanita saat sebuah benjolan sudah nampak dengan jelas, kemungkinannya  bahwa benjolan tersebut adalah kanker, maka seseorang mungkin telah kehilangan waktu yang berharga untuk memulai pengobatan sedini mungkin. Jadi hal yang  bijaksana adalah memeriksa payudara kita secara teratur pada selang waktu yang tertentu. Dengan cara ini, kelainan yang terkecil sekalipun dapat ditemukan dan langkah-langkah aktif untuk perngobatan dapat dimulai sedini mungkin (Gilbert, 1996: 41).

READ MORE - Pengetahuan Remaja tentang SADARI

Manajemen Terpadu Balita Sakit

Manajemen Terpadu Balita Sakit:
Derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur-unsur mortalitas yang memengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah angka harapan hidup waktu lahir (Lo). Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator yaitu angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian pneumonia pada balita per 1000 balita, angka kematian diare pada balita per 1000 balita per 1000 balita dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Menurut Susenas 2001 Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup, maka 340 ribu anak meninggal pertahun sebelum usia lima tahun dan diantaranya 155 ribu adalah bayi sebelum berusia satu tahun. Dari seluruh kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut, diare dan gangguan perinatal/neonatal (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1 Depkes RI, 2004).
Dari data hasil survei dapat digarisbawahi bahwa pneumonia, diare, malaria, campak dan gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan yang intensif. Dewasa ini cara-cara yang cukup efektif untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita akibat penyakit tersebut. WHO dan UNICEF memperkenalkan 1 set pedoman terpadu yang menjelaskan secara dini penanganan penyakit-penyakit tersebut. Selanjutnya dikembangkan paket pelatihan untuk melatih proses manajemen terpadu balita sakit kepada tenaga kesehatan yang bertugas menangani anak sakit. Metode ini dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1, 2004).

READ MORE - Manajemen Terpadu Balita Sakit

Berat badan Ibu Hamil

Berat badan Ibu Hamil:
Visi Indonesia Sehat 2010 adalah ditetapkannya misi pembangunan kesehatan yang salah satunya adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, dengan sasaran meningkatkan jumlah penduduk mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang sehingga untuk meningkatkan percepatan perbaikan derajat kesehatan masyarakat dengan salah satu program unggulannya yaitu program perbaikan gizi (Dep.Kes RI,1993).
Sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia saat ini dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi. Kejadian kekurangan gizi pada ibu hamil berdampak pada kemungkinan resiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), meningkatnya kemungkinan pre eklamsi, perdarahan antepartum, dan komplikasi obstetrik lainnya selain meningkatnya angka kematian ibu, angka kematian perinatal, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup (Dep.Kes. RI, 2004). 
Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. Angka kematian ibu sebesar 307 (0,307%) per 100.000 kelahiran hidup. Provinsi Lampung terdapat sebanyak 145 (0,88%) kasus dari 165.347 kelahiran hidup. Jumlah AKI di Kota Metro pada tahun 2005 ini ada sebanyak 2 (0,072%) kasus per 2.801 kelahiran hidup. Kota Metro sebagai wilayah dengan kasus terkecil AKI tetap saja mengalami peningkatan kejadian dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2005). 
Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada periode 2002-2003, tingkat kematian perinatal adalah 24 per 1000 kelahiran (Kodim, 2007). Salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal adalah Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2500 gram). BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intrauterine Growth Retardasion (IUGR), yaitu bayi lahir cukup bulan tapi berat badannya kurang. Terdapat BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil di negara berkembang (Dep.Kes. RI, 2003). 
Hasil survey Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) pada tahun 2003 menunjukkan sebesar 16,7% Wanita Usia Subur (WUS) di Indonesia memiliki risiko Kurang Engergi Kronik (KEK). Provinsi Lampung tercatat sebesar 14,43% WUS yang mempunyai resiko KEK (Dep.Kes. RI, 2003).
Kehamilan merupakan masa penyesuaian tubuh terhadap perubahan fungsi tubuh yang menyebabkan peningkatan kebutuhan akan nutrisi. Terdapat berbagai laporan penelitian yang menunjukkan adanya kaitan erat antara status gizi ibu hamil dan anaknya yang dikandung yaitu bahwa status gizi ibu hamil mempengaruhi tumbuh kembang janin yang dikandung. Makanan ibu sangat penting diperhatikan agar kebutuhan nutrisi ibu dan anak dapat terpenuhi secara optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ibu hamil dapat dilihat dari Indeks Quetelet (Indeks Q), asupan gizi, dan komplikasi atau penyakit yang menyertai ibu selama kehamilan (Samsudin, 1986). 
Indikator pemenuhan gizi ibu hamil dapat diukur dengan Indeks Quetelet (Indeks Q). Indeks Q menekankan pada keseimbangan berat badan dalam kilogram dibagi dengan dua kali tinggi badan dalam meter. Kenaikan berat badan adalah salah satu indeks yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menentukan status gizi wanita hamil (Rose-Neil, 1991). 
Asupan gizi sangat menentukan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Makanan yang dikonsumsi terdiri dari susunan menu seimbang, yaitu yang lengkap dan sesuai kebutuhan. Asupan makanan ibu hamil meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan sehingga dapat mempengaruhi pola kenaikan berat bdan ibu selama kehamilan (Huliana, 2001). 

READ MORE - Berat badan Ibu Hamil

Gifted plus

Gifted plus:
Istilah gifted plus kini banyak digunakan untuk anak-anak gifted yang mempunyai kesulitan ganda (dual exceptional), yaitu yang mempunyai komorbiditas dengan gangguan lainnya. Komorbiditas adalah suatu gangguan (diagnosa) yang menyertai suatu keadaan (diagnosa) lain. Pada anak-anak gifted, gangguan lain yang menyertainya terbanyak adalah gangguan hiperaktivitas dan gangguan konsentrasi (ADD/ADHD) dengan berbagai gangguan ikutan dari diagnosa ADD/ADHD ini seperti tic, ODD (Opposan Deviant Disorder), OCD (Obsessive Compulsive Disorder), Bi-polar, dan sebagainya. 
Komorbiditas pada anak-anak gifted ini sangat sulit diidentifikasi, karena dengan kecerdasannya yang sangat baik itu, ia mampu mengkamuflase (masking) atau menutupi gangguan yang disandangnya (McCoach, 2004). Akibat komorbiditasnya ini, menjadikan prestasinya tidak menetap, di samping itu  si anak yang sangat rentan terhadap berbagai situasi yang mampu menyulut masalah yang disandangnya akan semakin parah. Kesulitan pengidentifikasian dan membedakan antara anak gifted yang memang mempunyai komorbiditas, dengan anak gifted yang giftednessnya tak terlayani sehingga memunculkan masalah seperti penyandang ADD/ADHD (karena reaksinya keluar/ekstrovert dan agresive) atau autisme (karena reaksinya ke dalam/introvert-menarik diri), bisa dirasakan oleh para orang tua dan guru, karena pada umumnya gejala keduanya hampir sama. Umumnya kemudian anak-anak ini lebih sering dikelompokkan sebagai penyandang ADD/ADHD atau autisme dan mendapatkan treatment sebagai ADD/ADHD atau autisme, yang tentu saja kurang tepat.  
Pengalaman mendeteksi dan menangani  anak-anak seperti ini di Indonesia dirasa masih luar biasa langka, bahkan dapat dikatakan tidak bisa mendapatkan ahli kependidikan (orthopedagog) yang mempunyai spesialisasi dalam bidang ini. Terhadap anak-anak ini juga belum ada sekolah yang mampu menanganinya.

READ MORE - Gifted plus

Pengetahuan dan pendidikan Ibu Tentang Balita

Pengetahuan dan pendidikan Ibu Tentang Balita:
Pembangunan kesehatan dilaksanakan berlandaskan pada kemampuan dan kekuatan sendiri suatu bangsa, dalam mengatasi masalah-masalah kesehatannya sehingga setiap upaya kesehatan yang dijalankan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran serta masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya.  Pada masa otonomi daerah salah satu strategi yang harus dijalankan adalah empowerment atau pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan prakarsa dan terbangunnya kemandirian kolektif masyarakat yang bermuara menumbuhkan masyarakat madani (civil society) dan menciptakan peluang untuk ketahanan berlanjut (sustaining capacity) bagi masyarakat (Konsep Pengembangan Posyandu Plus, 1999).
Dengan program pembangunan kesehatan, maka pemerintah mencanangkan Indonesia Sehat 2010, yang salah satu sasaranya adalah menurunkan Angka Kematian Balita (AKABA). Angka Kematian Balita (0-< 5 tahun) adalah  jumlah kematian anak umur 0-< 5 tahun per 1000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Estimasi angka kematian balita di Indonesia yang dihitung dari data Badan Pusat Statistik menunjukan penurunan yang cukup berarti pada tahun 1995 angka kematian balita (AKABA) adalah 75 per 1000 kelahiran hidup, pada tahun 1997 angka kematian balita (AKABA) adalah 43 per 1000 kelahiran hidup.  Menurut hasil SDKI 2002-2003 angka kematian balita 64 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini belum mencapai target 58 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Pada tahun 1983,  berdasarkan Instruksi bersama Menteri Kesehatan dan Kepala BKKBN No. 06/Menkes/Inst/1981-22/HK010/1981 dan No. 264/MenkesInst/ VI/1983-26/HK-011/E-3/1983, bentuk keterpaduan pelayanan KB-Kesehatan mulai dioperasionalkan. Ditingkat desa, kegiatan keterpaduan KB-Kesehatan diwujudkan dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu atau lebih dikenal dengan Posyandu (Konsep Pengembangan Posyandu Plus, 1999).
Posyandu adalah suatu forum komunitas alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia sejak dini.  Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana  (Nazrul Effendi, 1998).  Posyandu dikembangkan dari pos-pos pelayanan yang telah ada, yang dikelola oleh masyarakat sendiri, seperti pos penimbangan balita, pos KB, dan pos Imunisasi (Konsep Pengembangan Posyandu Plus, 1999).
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2004, jumlah Posyandu mencapai 242.124 unit, namun hanya 40% yang menjalankan fungsinya dengan baik. Ini mengakibatkan cakupan Posyandu masih rendah, cakupan untuk balita di bawah 50% (www.google.com, Harian Kompas, 8 September 2005). aJumlah Posyandu yang telah berhasil diaktifkan kembali kini mencapai 42.221 unit di seluruh tanah air (www.google.com, Pidato Kenegaraan Presiden RI, Jakarta, 16 Agustus 2006).
READ MORE - Pengetahuan dan pendidikan Ibu Tentang Balita

Eklampsi dan Preeklampsi

Eklampsi dan Preeklampsi:
Pre eklampsi dan eklampsi merupakan komplikasi kehamilan dan persalinan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, protein urin dan edema, yang kadang-kadang disertai komplikasi sampai koma. Sindroma pre eklampsi ringan seperti hipertensi, edema, dan proteinuria sering tidak diperhatikan, sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul pre eklampsi berat, bahkan eklampsi (Prawirohardjo, 2002 : 282).
Pre eklampsi dan eklampsi berdampak pada ibu dapat memperburuk fungsi beberapa organ dan  sistem, yang diduga merupakan akibat vasospasme dan iskemia plasenta. Vasospasme mengurangi suplai oksigen ke organ-organ tubuh dan dapat menyebabkan hipertensi arterial. Keadaan ini sangat berpengaruh pada ginjal, hati, otak, dan plasenta. Spasme arterial menyebabkan retina mata mengecil, dan jika terjadi perdarahan, dapat menimbulkan kebutaan (Pillitteri, 2002 : 908). Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus, bahkan perdarahan (Mochtar, 1998 : 200). Komplikasi ini yang merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsi (Prawirohardjo, 2002 : 296). Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001, eklampsi merupakan penyebab kematian ibu kedua yaitu sebesar 24% setelah perdarahan (28%),  dan infeksi (11%)  (Depkes RI, 2004 : 17). Di Provinsi Lampung, eklampsi juga menduduki urutan kedua sebesar (18,75%) setelah perdarahan (50,69%) (Depkes Provinsi Lampung, 2005 : 59). Angka ini masih relatif tinggi jika dibandingkan dengan angka kematian ibu di negara-negara berkembang yang disebabkan oleh eklampsi yaitu sekitar 9,8-25,5% (Prawirohardjo, 2002 : 297).
Dampak pre eklampsi pada janin dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang bisa mengakibatkan berat bayi lahir rendah (Bennett, 1993 : 312). Keadaan ini terjadi karena spasmus arteriola spinalis decidua menurunkan  aliran darah yang menuju ke plasenta,  yang mengakibatkan gangguan fungsi plasenta (Mochtar, 1998 : 200, dan Prawirohardjo, 2002 : 285). Selain itu, menurunnya fungsi plasenta dapat meningkatkan kejadian hipoksia janin pada masa kehamilan dan persalinan. Kerusakan plasenta yang masih ringan akan mengakibatnya hipoksia janin, dan jika kerusakan lebih parah, dapat terjadi kematian janin dalam kandungan (Bennett, 1993 : 312). Kematian, janin karena pre eklampsi mencapai 10% dan meningkat menjadi 25% pada eklampsi (Pilliteri, 2002 : 73).
Penyebab terjadinya eklampsi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, tetapi ditemukan beberapa faktor resiko terjadinya pre eklampsi, yaitu primigravida usia <20 tahun atau > 35 tahun, nullipara, kehamilan ke lima atau lebih,  kehamilan pertama dari pasangan yang baru, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, gemelli / kehamilan ganda, kehamilan multiple,  molahidatidosa,  Hidramnion, Diabetes gestasional, riwayat penyakit ibu seperti; hipertensi kronis,  hipertensi esensial, penyakit ginjal, penyakit hati, diabetes mellitus, adanya riwayat keluarga dengan pre eklampsi, sosial ekonomi rendah, ibu yang bekerja, pendidikan yang kurang, faktor ras dan etnik, obesitas dengan indeks masa tubuh lebih dari atau sama dengan 35 kg/m², dan lingkungan /letak geografis yang tinggi (Chapman, 2006 : 162, Cunningham, 2005 : 630, Manuaba, 1998 : 35, 41, Bennett, 1993 : 310, Pillitteri, Prawirohardjo, 2002 : 287, dan Varney, 1997 : 360).
Sindroma pre eklampsi dapat dicegah dan dideteksi secara dini. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan yang secara rutin mencari tanda-tanda pre eklampsi, sangat penting dalam usaha pencegahan pre eklampsi berat dan eklampsi. Ibu hamil yang mengalami pre eklampsi perlu ditangani dengan segera. Penanganan ini dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. (Prawirohardjo, 2002 : 282).
Frekuensi kejadian  pre eklampsi menurut the National Center for Health Statistics pada tahun 1998 adalah 3,7% dari seluruh kehamilan (Cunningham, 2005 : 625). Frekuensi pre eklampsi untuk tiap negara berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya. 
READ MORE - Eklampsi dan Preeklampsi

Gaya seksual berdasarkan zodiak

Gaya seksual berdasarkan zodiak:
Simak pembahasan mengenai kecenderungan seseorang saat berada di tempat tidur, mulai dari siapa yang menyukai role-play, siapa yang membutuhkan sesi foreplay ekstra, sampai hal-hal apa saja yang mampu membangkitkan dan memadamkan gairah berdasarkan perhitungan astrologi berikut ini:

1. Aries
Penuh hasrat dan tidak sabaran. Aries tidak menyukai basa-basi seperti merayu dengan kata-kata romantis atau memberikan bunga. Baginya, lebih baik langsung menuju sasaran dan tidak usah bertele-tele. Aries menyukai sesi bercinta yang panas dan larut dalam gairah. Dia tahu apa yang diinginkan dan bagaimana cara mendapatkannya.

Aries menyukai pasangan yang agresif dan penuh kejutan. Baginya, sesuatu hal yang dilakukan secara monoton sangat membosankan. Si dia lebih suka keluar dari jeratan rutinitas dan mencoba hal-hal lain seperti mencoba teknik bercinta baru atau bercinta di lokasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

2. Taurus
Berbeda dengan Aries, Taurus justru menyukai rayuan-rayuan sensual sebelum sesi bercinta. Jika gairah sudah tersulut, urusan selanjutnya menjadi lebih mudah. Bunga di kamar tidur ditemani nyala lilin dan alunan musik lembut, dijamin mampu menghidupkan malam Anda.

Taurus menyukai rayuan-rayuan tradisional. Hindari kostum kinky seperti cambuk dan stoking jala jika tidak ingin membuat si dia kehilangan gairah.

3. Gemini
Pikiran Gemini mudah melantur ke mana-mana. Oleh karena itu, segera tarik si dia ke tempat tidur begitu Anda membuatnya terangsang. Bercinta dengan Gemini bisa sangat panas dan lama. Selain itu, si dia juga senang berbicara saat berhubungan intim.

Untuk memancing gairahnya, lontarkan kata-kata yang sedikit nakal dan lakukan hal-hal baru di luar dugaannya. Akan tetapi, jangan mengharapkannya mau tidur bergelung bermalas-masalan setelah meraih klimaks. Hal itu membuatnya nervous sehingga memilih langsung turun dari tempat tidur.

4. Cancer
Cancer merupakan tipe individu yang sangat serius, intens, emosional dan sensitif. Meskipun terkesan sedikit pemalu pada awalnya, si dia dipenuhi kasih sayang tidak akan ragu menunjukkan afeksinya ketika mulai merasa nyaman.

Cancer yang supersensitif bisa cepat tersinggung. Jangan coba-coba melukai perasaannya atau memiliki pikiran sedikitpun untuk berselingkuh sebab dia tidak akan pernah melupakan itu.

5. Leo
Seorang Leo senang menjadi pusat perhatian dan dikenal suka melakukan hal dramatis di tempat tidur. Dia juga haus akan belaian dan sangat alami dalam bercinta. Leo selalu ingin kehendaknya dituruti dan suka memegang kendali.

Sedikit pujian akan menyenangkan hatinya. Katakan bahwa dia tampan, cerdas, dan hebat di tempat tidur, maka gairahnya akan langsung melesat bak roket. Tapi jangan pernah mengatur atau memberitahunya apa yang harus dilakukan ketika bercinta karena hal itu akan membunuh libidonya.

6. Virgo
Virgo sedikit rewel untuk urusan bercinta. Mereka hanya mau melakukannya di lingkungan yang bersih dan menyenangkan. Virgo merupakan individu yang manis, romantis, dan cenderung menyukai pasangan yang tidak terlalu Meskipun dia sering berpura-pura kaget ketika Anda mengatakan sesuatu yang sedikit ''nakal'', di dalam hati dirinya kegirangan.

Perlakukan Virgo dengan penuh kehati-hatian dan pastikan seprai tempat tidur berada dalam keadaan bersih sebelum mengajaknya bercinta. Lupakan fantasi bercinta di alam terbuka karena dia pasti akan menolaknya mentah-mentah.

7. Libra
Libra adalah individu yang perfeksionis dan sangat ahli beraksi di tempat tidur. Dia sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau erotis dan berbagai pendekatan baru untuk meraih kenikmatan. Dia berpikiran terbuka dan mau mencoba apapun asalkan tidak terlalu vulgar.

Kamar tidur yang dihias sempurna dan suasana nyaman mampu membakar gairahnya. Tapi jangan harap dia mau diajak berkemah dan bercinta di atas tanah beratapkan langit yang bertabur bintang.

8. Scorpio
Scorpio terkenal aneh dan misterius. Bagi Scorpio, cinta dan hubungan seksual saja tidak cukup. Harus ada ikatan batin yang erat antara dirinya dan pasangan sebelum memutuskan untuk bercinta. Akan tetapi begitu merasa yakin bahwa Anda adalah segalanya baginya, maka Scorpio tidak akan ragu-ragu menunjukkan segenap cinta dan aksi sensualnya.

Scorpio tidak keberatan melakukan sesuatu yang sedikit kinky. Akan tetapi, jangan sekalipun menunjukkan bahwa Anda yang memegang kuasa karena ia membencinya.

9. Sagitarius
Si petualang yang sangat bersemangat dan penuh antusias ini akan membuat Anda merasa menjadi satu-satunya hal beharga baginya ketika berada di tempat tidur. Saat bercinta, Sagitarius ingin memastikan pasangannya memeroleh kenikmatan dan begitu pula sebaliknya. Dia pun senang mencoba lokasi-lokasi baru untuk bercinta dan akan melakukan apa saja untuk memuaskan Anda.

Untuk membuatnya terkesan, coba berbagai posisi aneh atau teknik bercinta yang eksotis. Hindari hal-hal rutin karena hanya akan membuatnya bosan.

10. Capricorn
Seorang Capricorn terkenal sebagai workaholic. Akan tetapi, di tempat tidur pun mereka ''bekerja'' sama giatnya. Sebagai individu ambisius dan bertanggungjawab, Capricorn sangat rapi menyembunyikan hasrat seksualnya. Tapi di balik semua sikap profesionalnya, hasratnya tetap membara. Saat beraksi, dia tidak akan ragu menunjukkan kasih sayang dan siap meraih kesenangan.

Capricorn menyukai pasangan yang cerdas dan tidak ragu mengambil inisiatif untuk melakukan hal-hal sensual. Akan tetapi, spontanitas dan tingkah laku aneh mampu membunuh libidonya.

11. Aquarius
Aquarius akan melakukan apa saja selama menganggap hal tersebut menarik. Dia cenderung membutuhkan pemanasan yang cukup lama sebelum benar-benar masuk ke sesi bercinta. Akan tetapi, begitu gairahnya terpacu Anda pun akan terpukau melihat aksinya.

Percakapan cerdas, kepradian unik, serta intelektualitas mampu membuatnya bergairah. Tapi jangan pernah berpikir untuk mengukungnya karena Aquarius mencintai kebebasan.

12. Pisces
Pisces sangat ahli menyenangkan pasangannya. Dia bisa berlaku seperti bunglon yang mampu mengubah-ubah gaya sesuai kebutuhan dan keinginan pasangannya. Pisces cenderung emosional dan penuh empati. Selain itu, ia juga terbuka terhadap hal-hal baru, termasuk untuk urusan seksual..
READ MORE - Gaya seksual berdasarkan zodiak

Rahasia dibalik sebuah Ciuman...!

Rahasia dibalik sebuah Ciuman...!: Hampir semua orang dapat dipastikan mengenal dan mengetahui apa itu ciuman dan bagaimana berciuman, tapi apakah Anda tahu bahwa ciuman itu baik? atau malah buruk? Bagaimana sih orang Jepang berciuman? kalo orang Nigeria? Di bawah ini ada berbagai hal unik dan lucu soal ciuman yang mungkin Anda belum pernah tahu (sebelum membaca artikel ini tentunya!)

  1. Berciuman menggerakkan 29 otot wajah, dengan kata lain, dengan berciuman, anda akan lebih muda, karena mencegah kerutan di wajah!
  2. Pasangan yang berciuman saling menukarkan zat seperti lemak, mineral, dan protein pada saat berciuman. Hal ini akan mendorong pembuatan antibodi, yang akan digunakan untuk melawan berbagai macam penyakit. Jadi berciuman itu ekstra sehat!
  3. 66 persen pasangan menutup mata saat berciuman, sedangkan sisanya sangat menikmati bagaimana emosi menjalari wajah pasangan mereka.
  4. Menurut statistik Amerika, seorang wanita akan mencium setidaknya 80 orang laki laki sebelum akhirnya menikah
  5. Ciuman romantis akan membakar 2-3 kalori, sementara French Kiss akan membuang 5 kalori, dengan kata lain, semakin sering anda berciuman, semakin banyak kalori anda terbakar.
  6. Sensitifitas bibir 200 kali lebih tinggi daripada jari anda!
  7. Para pria yang mencium istrinya sebelum berangkat kerja, akan memiliki usia 5 tahun lebih lama, sedangkan pria yang hanya menutup pintu ternyata lebih cenderung terlibat masalah kecelakaan di jalan.
  8. Berciuman penuh gairah selama 90 detik akan mengangkat tekanan darah dan meningkatkan detak jantung. Hal ini juga akan meningkatkan level hormon dalam darah, jadi akan menambah usia 1 menit! Mau panjang umur? Sering-sering berciuman ya!
  9. French Kiss adalah tipe ciuman yang disebut sebagai ‘jembatan jiwa’, dalam ciuman tipe ini, bukan hanya bibir yang bergerak, tapi lidah juga lho!
  10. Pada saat orang eskimo saling bertemu, mereka tidak hanya sekedar menggesekkan hidung. Pada saat hidung bertemu, bibir juga terbuka. Pada saat ini mereka akan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Dengan cara ini mereka akan menikmati aroma tubuh masing-masing pasangan.
  11. PDA (Public Display of Affection), termasuk berciuman, biasanya kurang diterima di Jepang, Taiwan, Cina dan Korea (juga di negara kita kan). Di Jepang, sebelum berciuman, mereka harus menjaga jarak, saling membungkuk, barulah kemudian berciuman di bibir selama sedetik!
  12. Tubuh mereka yang berciuman akan memproduksi suatu zat yang memiliki kekuatan 200 kali lipat morfin. Oleh karena inilah, mereka yang berciuman seringkali merasa kebahagiaan dan kegembiraan yang luar biasa.
  13. Berciuman bikin anda rileks dan mengurangi stress! Anda stress? Cium dong rekan kerja Anda
  14. Sepanjang hidupnya, manusia rata-rata menghabiskan waktu selama dua minggu untuk berciuman
  15. Ciuman selama satu menit akan menghabiskan 26 kalori dalam tubuh anda!
  16. 50% orang di dunia ini, pertama kali merasakan ciuman penuh cinta di bawah 14 tahun!
READ MORE - Rahasia dibalik sebuah Ciuman...!

10 makanan penurun kadar kolesterol

10 makanan penurun kadar kolesterol:
Banyak cara untuk menurunkan kadar kolesterol. Obat berbahan kimia terhitung efektif menurunkan kolesterol. Tapi tentu saja ada efek samping. Anda bisa mencoba menurunkan kadar kolesterol dengan cara alami. Ada sejumlah makanan yang bisa menurunkan kadar Low-Density Lipoproptein (LDL) alias kolesterol jahat yang menyebabkan plak di pembuluh darah, dan meningkatkan High-Density Lipoprotein (HDL) alias kolesterol baik yang bisa dimanfaatkan tubuh untuk mengolah vitamin yang larut di dalam lemak. Untuk menurunkan kadar LDL, Anda harus mengurangi asupan lemak jenuh. Lemak jenuh biasanya ditemukan di produk hewani, misalnya daging, susu, krim, mentega, dan keju. Ada juga lemak jenuh yang berasal dari nabati misalnya santan, minyak kelapa, dan lemak nabati. Namun banyak juga makanan yang mengandung lemak tidak jenuh sehingga sangat efektif menurunkan kadar kolesterol.

1. Kacang kedelai
Kacang kedelai dan turunannya, alias kedelai yang sudah diolah misalnya menjadi tahu, tempe, susu kedelai, dan tepung kedelai mengandung isoflavon, yaitu zat yang bisa menekan LDL. Tapi ingat, meski nikmat tahu dan tempe bisa tidak efektif menurunkan kolesterol bila diolah dengan sembarangan. Misalnya, digoreng dengan minyak jelantah atau dicampur santan. Sebab, santan dan minyak goreng adalah sumber lemak jenuh. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menganjurkan untuk mengonsumsi sedikitnya 25 gram protein kedelai per hari untuk menurunkan kadar kolesterol.

2. Kacang-kacangan
Kacang adalah sumber serat larut yang sangat tinggi. Mengonsumsi serat larut bisa mengurangi kolesterol. Mengonsumsi kacang seperti buncis, kacang merah, kacang panjang secara teratur selama enam minggu bisa mengurangi kadar kolesterol sebanyak 10%.

3. Ikan Salmon
Ikan salmon sangat baik karena mengandung asam Omega-3 yang bisa menurunkan LDL dan trigiserilda serta meningkatkan HDL. Salmon mengandung EPA dan DHA yang baik untuk kesehatan jantung. The American Heart Association merekomendasi paling tidak dua porsi per minggu untuk mendapatkan manfaat maksimal. Selain salmon, ikan tuna, trout, sarden, makerel, dan hering juga baik.

4. Alpukat
Alpukat adalah sumber lemak tidak jenuh yang bisa meningkatkan level HDL. Sayangnya, alpukat tinggi kalori, sehingga harus dikombinasikan dengan sayur-sayuran yang bisa menekan kalori. Satu buah alpukat berukuran sedang mengandung 300 kalori dan 30 gram lemak tidak jenuh sedangkan kebutuhan tubuh manusia normal adalah 1.800 kalori dan 30 gram lemak tidak jenuh per harinya.

5. Bawang Putih
Sejak ribuan tahun lalu, bawang putih sudah dipercaya mengandung banyak zat yang baik untuk kesehatan manusia. Bangsa Mesir Kuno memakai bawang putih untuk meningkatkan stamina. Di masa modern, bawang putih dipakai untuk menurunkan kolesterol, mencegah pembekuan darah, menurunkan tekanan darah, dan melindungi tubuh dari infeksi. Hasil penemuan paling mutakhir, bawang putih bisa mencegah partikel kolesterol menempel di dinding pembuluh darah.

6. Bayam
Bayam mengandung banyak lutein. Lutein adalah zat penting yang bisa menjaga kesehatan dan ketajaman fungsi mata. Lutein juga ternyata bisa menjaga kesehatan jantung karena bisa mencegah lemak menempel di pembuluh darah. Dianjurkan, memakan bayam setiap hari sekitar setengah mangkuk untuk hasil maksimal.

7. Margarin
Beberapa jenis margarin bisa menurunkan kadar kolesterol. Misalnya margarin dari minyak biji bunga kanola

8. Mede, Almon, dan Kenari
Lemak tak jenuh tunggal, di dalam kacang mede, almon, dan kenari adalah bahan makanan rendah lemak yang baik untuk kesehatan jantung. Kacang-kacangan itu juga mengandung vitamin E, magnesium, dan phytochemical yangterkait erat dengan kesehatan jantung. Sayangnya, seperti alpukat, kacang-kacang ini sangat tinggi protein. Jadi, jangan rakus makan kacang agar manfaatnya benar-benar maksimal.

9. Teh
Teh, mau diminum dingin atau panas, sama saja manfaatnya. Teh mengandung antioksidan yang bisa membuat pembuluh darah rileks sehingga terhindar dari pembekuan darah.
Antioksidan di dalam teh, yaitu flavonoid bisa mencegah oksidasi yang menyebabkan LDL menumpuk di pembuluh darah. Menikmati segelas teh setiap hari bisa memenuhi kebutuhan antioksidan.

10. Cokelat
Cokelat ternyata sehat. Tentu saja, cokelat yang dicampur terlalu banyak susu mengandung terlalu banyak lemak. Jadi, pilihlah cokelat hitam atau pahit. Cokelat sehat karena mengandung banyak antioksidan dan flavanoid. Cokelat putih, tidak mengandung zat itu sehingga kurang sehat dikonsumsi. Kandungan flavanoid cokelat bervariasi tergantung di mana cokelat itu tumbuh dan proses pengolahannya.
READ MORE - 10 makanan penurun kadar kolesterol

Standar Profesi Kebidanan

Standar Profesi Kebidanan:

A. Standar Profesi Bidan
Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pasal 50 penjelasan menyatakan bahwa : Yang dimaksud dengan” standar profesi ”adalah batasan kemampuan ( knowledge, skill and professional attitude ) minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.
Dalam melaksanakan profesinya, Bidan memiliki 9 (sembilan) kompetensi yaitu :
1. Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan keluarganya.
2. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh dimasyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua.
3. Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
4. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin selama persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.
5. Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan mneyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
6. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan.
7. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi dan balita sehat (1 bulan – 5 tahun).
8. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komperhensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
9. Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem reproduksi.
Setiap Kompetensi dilengkapi dengan Pengetahuan dan keterampilan dasar, pengetahuan dan keterampilan tambahan, yang wajib dimiliki dan dilaksanakan dalam melakukan kegiatan asuhan kebidanan.
Setiap Bidan harus bekerja Secara profesional dalam melaksanakan profesi asuhan kebidanan , dan dalam melaksanakan profesi tersebut Bidan harus bekerja sesuai standar yang meliputi meliputi : standar pendidikan, standar falsafah, standar organisasi, standar sumber daya pendidikan, standar pola pendidikan kebidanan, standar kurikulum, standar tujuan pendidikan, standar evaluasi pendidikan, standar lulusan, standar Pendidikan Berkelanjutan Bidan, standar organisasi, standar falsafah, standar sumber daya pendidikan, standar program pendidikan dan pelatihan, standar fasilitas, standar dokumen penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan, standar pengendalian mutu
Standar Pelayanan Kebidanan, standar falsafah, Standar Administrasi Dan Pengelolaan, Standar Staf Dan Pimpinan, Standar Fasilitas Dan Peralatan, Standar Kebijakan Dan Prosedur, Standar Pengembangan Staf Dan Program Pendidikan, Standar Asuhan, Standar Evaluasi dan Pengendalian Mutu, standar praktik kebidanan, Standar metode asuhan, Standar pengkajian, Standar Diagnosa kebidanan, standar rencana asuhan, standar tindakan, standar partisipasi klien, standar pengawasan, standar evaluasi, standar dokumentasi.

B. Kode Etik Kebidanan
Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntunan bagi anggota dalam me laksanakan pengabdian profesi.
Kode Etik Bidan Indonesia, meliputi :
Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat
Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.
Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut oleh klien.
Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, keluaraga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajart kesehatannya secara optimal.

C. Kewajiban bidan terhadap tugasnya
Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
Setiap bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai dengan kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/atau rujukan
Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien
Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.
Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

Kewajiban bidan terhadap profesinya:
Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat
Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.
Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik
Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.
Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa, bangsa dan tanah air
 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayananan Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga.
Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga

D. Standar Pengawasan Kebidanan
Pemeriksaan dan pengawasan selagi hamil serta pertolongan persalinan, merupakan hal yang penting. Banyak penyulit-penyulit sewaktu hamil dengan pengawasan yang baik dan bermutu dapat diobati dan dicegah, sehingga persalinan berjalan dengan mudah dan normal. Apabila suatu tindakan akan diambil, hal ini dilakukan sedini mungkin tanpa menunggu terjadinya komplikasi dan persalinan tidak terlantar.
Ibu hamil dapat memeriksakan kehamilannya pada : dokter ahli kebidanan, dokter ahli lain, dokter umum, bidan, perawat bidan dan dukun terlatih. Dalam suatu komunikasi seperti di Indonesia ada pusat-pusat kesehatan Puskesmas dan KIA-nya dimana seorang ibu hamil dapat memeriksakan kehamilannya.

Peranan dan Tanggung Jawab Bidan Dalam Asuhan Kebidanan 
Menjaga agar pengetahuannya tetap up to date terus mengembangkan pengetahuan dan kemahirannya
Mengenali batas-batas pengetahuan, keterangan pribadinya dan tidak melampaui wewenangnya dalam praktek klinik
Berkomunikasi dengan pekerja kesehatan professional lainnya dengan rasa hormat dan martabat
Memelihara kerjasama yang baik dengan staf kesehatan dan RS pendukung untuk memastikan system rujukan yang optimal
Kegiatan memantau mutu yang bisa mencakup penilaian sejawat, pendidikan berkesinambungan, kaji ulang kasus-kasus
Bekerjasama dengan masyarakat dimana ia praktek dalam meningkatkan mutu asuhan kesehatan
Menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan status wanita serat kondisi hidup mereka serta menhilangkan praktek kultur yang jelas merugikan mereka

Tahap kedua dalam pengawasan, dan pada praktiknya kita lebih sering menyebutnya dengan observasi. Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan klien untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien. Tujuan dari observasi adalah mengumpulkan data tentang masalah yang dihadapi klien melalui kepekaan alat panca indra.



Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi :
1. Tidak selalu pemeriksaan yang akan kita lakukan dijelaskan secara rinci kepada klien (meskipun komunikasi terapeutik tetap harus dilakukan), karena terkadang hal ini dapat meningkatkan kecemasan klien atau mengaburkan data (data yang diperoleh menjadi tidak murni)..
2. Menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual klien.
3. Hasilnya dicatat dalam catatan keperawatan, sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh perawat yang lain.
Contoh kegiatan observasi misalnya : terlihat adanya kelainan fisik, adanya perdarahan, ada bagian tubuh yang terbakar, bau alkohol, urin, feses, tekanan darah, heart rate, batuk, menangis, ekspresi nyeri, dan lain-lain.

READ MORE - Standar Profesi Kebidanan

Polimenorrhea

Polimenorrhea:
A. Pengertian Polimenorrhea
Polimenorrhea adalah kelainan haid dimana siklus kurang dari 21 hari5 dan menurut literatur lain siklus lebih pendek dari 25 hari6,12. Gejala haid tidak normal penyebab anemia lain adalah polimenorhea, kondisi siklus haid yang berjalan lebih pendek dari periode haid normal. Haid polimenorhea terjadi jika siklus haid berjalan kurang dari 21 hari.

Akibat siklus haid yang pendek, tentu volume darah yang dikeluarkan juga akan jauh lebih banyak dari haid dengan siklus normal. Ada juga metrohagia, kondisi pendarahan di luar haid yang dapat disebabkan oleh kelainan organik atau kelainan fungsional. "Biasanya ini terjadi pada perempuan usia usia di atas 40 tahun dan perempuan premenopause.

B. Etiologi
Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek atau kedua stadium memendek. Yang paling sering dijumpai adalah pemendekan stadium proliferasi. Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan stadium sekresi juga dan hal ini menyebabkan infertilitas.  Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium sekresi karena korpus luteum lekas mati. Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat klimakterium, pubertas atau penyakit kronik seperti TBC6.
Kelainan haid biasanya terjadi karena ketidak seimbangan hormon-hormon yang mengatur haid, namun dapat juga disebabkan oleh kondisi medis lainnya.  Banyaknya perdarahan ditentukan oleh lebarnya pembukuh darah, banyaknya pembuluh darah yang terbuka, dan tekanan intravaskular. Lamanya pedarahan ditentukan oleh daya penyembuhan luka atau daya regenerasi. Daya regenerasi berkurang pada infeksi, mioma, polip dan pada karsinoma.

Kelainan haid adalah masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit, terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu. 
Kelainan haid sering menimbulkan kecemasan pada wanita karena kehawatiran akan pengaruh kelainan haid terhadap kesuburan dan kesehatan wanita pada umumnya.

Siklus Menstruasi
Menstruasi adalah peluruhan dinding uterus (endometrium) pada setiap bulan secara periodik1,2. Menstruasi biasanya terjadi selama 2-7 hari dengan rata-rata durasi menstruasi + 4,7 hari. Saat menstruasi dapat kehilangan darah sekitar 10-80 cc darah dengan rata-rata 35 cc4,5. Siklus yang normal berlangsung 24-35 hari.
Haid pertama kali disebut menarche1,3,4. Menarche diawali dengan gejala pubertas lainnya seperti pertumbuhan payudara (telarche), tumbuh rambut kemaluan (puberche) dan tumbuh rambut ketiak3. Menarche diikuti oleh siklus yang panjang sekitar 5-7 tahun, lalu regularitas siklus haid meningkat sehingga siklus haid memendek untuk mencapai masa siklus yang tetap4. Perubahan irreguler menjadi reguler ini berhubungan dengan terjadinya pematangan poros Hipotalamus – Hipofise – Ovarium4. Kemudian, saat wanita mulai memasuki masa menopause, irreguleritas siklus terjadi kembali karena mulai didominasi siklus-siklus yang anovulatoir.
Menstruasi terbagi dalam empat stadium yaitu:
1. Stadium Menstruasi atau Deskuamasi, 
Pada stadium ini, endometrium luruh dari dinding rahim disertai dengan perdarahan. Hanya lapisan tipis yang tertinggal yaitu stratum basale. Darah ini tidak membeku karena adanya fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan-potongan mukosa3,5. Bila darah banyak keluar, fermen tidak mencukupi hingga timbul bekuan darah dalam darah haid3. Pada saat ini ovarium mulai membentuk estrogen.

2. Stadium Post Menstruum atau Regenerasi, 
Pada stadium regenerasi, endometrium mulai menebal. Luka peluruhan ditutup oleh selaput lendir baru yang terbentuk dari sel epitel kelenjar-kelenjar endometrium. Pada saat ini tebal endometrium ± 0,5 mm. Stadium ini sudah mulai saat stadium menstruasi dan berlangsung ± 4 hari.
3. Stadium intermenstruum atau stadium proliferasi
Pada stadium proliferasi, endometrium tumbuh menjadi cepat menjadi tebal ±3,5 mm. Kelenjar endometrium tumbuh lebih cepat hingga berkelok-kelok. Stadium proliferasi berlangsung pada hari ke 5-14 dari hari haid pertama3. Pada saat ini terjadi peningkatan FSH yang memicu terjadinya pematangan folikel di ovarium menjadi folikel de graaf. Folikel ini menghasilkan estrogen dimana estrogen menghambat kerja FSH sehingga pembentukan folikel lainnya dapat dihambat sehingga didapatkan satu folikel de graaf saja yang matang. Estrogen memulai pembentukan lapisan baru pada uterus.

Ketika folikel telah matang, folikel mensekresikan cukup estradiol untuk memacu terjadinya pelepasan LH secara akut3,5. Pelepasan LH ini terjadi pada hari ke-12 dan bertahan selama 48 jam. LH mematangkan ovum, menipiskan dinding folikel sehingga memungkinkan untuk terjadinya letupan pada folikel agar terjadi ovulasi. Pada ovarium manakah ovulasi terjadi masih belum diketahui, ovulasi terjadi pada ovarium secara acak. Pada beberapa wanita, ovulasi disertai oleh nyeri tengah siklus yang disebut mittelschmerz akibat ada cairan yang terbebas dari folikel yang meletup yang jatuh ke rongga abdomen dan merangsang terjadinya rangsang peritoneum. Perubahan hormonal tiba-tiba saat ovulasi dapat menyebabkan perdarahan ringan pada tengah siklus. Pada beberapa penelitian didapatkan peningkatan kemampuan penciuman perempuan saat ovulasi.

4. Stadium praementruum atau stadium sekresi.
Pada stadium sekresi, tebal endometrium kira-kira tetap tetapi bentuk kelenjar menjadi berliku dan mengeluarkan getah. Dalam endometrium sudah terjadi penimbunan glikogen dan kapur untuk makanan telur. Stadium sekresi ini berlangsung pada hari ke 14-28 dari haid hari pertama. Setelah terjadi ovulasi, folikel yang sudah kehilangan ovum berubah menjadi korpus luteum di bawah pengaruh kelenjar hipofise. Korpus luteum menghasilkan progesteron dan tambahan estrogen untuk sekitar 2 minggu, setelah itu korpus luteum mati. Progesteron bertugas untuk menghasilkan lapisan yang cocok untuk implantasi embrio. Progesteron meningkatkan suhu basal sekitar 0,5- 10F. Bila fertilisasi terjadi, embrio akan mengalir ke dalam kavum uteri dan berimplantasi 6-12 hari setelah ovulasi. Segera setelah implantasi embrio memberikan sinyal pada sistem maternal. Sinyal awal berupa hCG. Sinyal ini berguna untuk mempertahankan korpus luteum agar dapat terus menghasilkan progesteron. Bila tidak terjadi kehamilan, endometrium akan meluruh sehingga terjadilah menstruasi prostaglandin dihasilkan dari dinding uterus dan menyebabkan otot uterus kontraksi. Proses ini membantu untuk mengeluarkan darah dari uterus dari dinding rongga uterus. Proses ini juga menjelaskan bagaimana terjadinya nyeri saat haid2.

C. Terapi
Keadaan ini dapat diperbaiki dengan menggunakan terapi hormonal. Stadium proliferasi dapat diperpanjang dengan estrogen dan stadium sekresi dapat diperpanjang dengan kombinasi estrogen-progesteron.
READ MORE - Polimenorrhea

Penyakit-penyakit dalam kehamilan

Penyakit-penyakit dalam kehamilan:

A. Penyakit Saluran Napas
Kehamilan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap fisiologi pernapasan. Ada empat faktor penting yang terjadi dalam kehamilan yang erat hubungannya dengan fungsi pernapasan.
Rahim yang membesar karena kehamilan akan mendorong diafragma ke atas, sehingga rangga dada menjadi sempit, gerakan paru akan terbatas untuk mengambil oksigen selama pernapasan, dan untuk mengatasi kekurangan 02 ini pernapasan menjadi cepat (hiperventilasi).
Perubahan hormonal, terutama hormon progesteron yang meningkat selama kehamilanya membuat otot-otot saluran pernapasan menjadi kendor, dan ini juga akan mendorong terjadinya hiperventilasi.
Meningkatnya volume darah dan cardiac output dalam usaha menyelamatkan Janin serta memenuhi kebutuhan metabolik ibu yang meninggi.
Perubahan imunologik. Faktor daya tahan tubuh ibu sangat erat hubungannya dengan timbulnya penyakit saluran napas selama kehamilan. Kadar imunoglobulin F (IgE) mungkin menaik atau menurun pada seorang wanita hamil. Bila kadar IgE pada penderita asma yang hamil meningkat, ternyata hal ini menyebabkan penderita Icbilv rentan dan lebih sering dapat serangan asma atau lebih berat.

Macam Penyaki Saluran Pernafasan
1. Influensa
Wanita hamil lebih mudah diserang penyakit influensa. Epidemi yaag hebat yang terjadi tahun 1957-1958, menyebabkan kematian ibu yang meningkat. Pada kca(i.v,m biasa, tidak banyak pengaruhnya pada ibu atau pun pada janin. Pengobatan p.nl.r penderita influensa harus dilaksanakan dengan baik, dengan banyak istirahat, banyak minum, dan kalau perlu diberi
analgetika atau antibiotika dan harus d: penggunaan obat-obat batuk yang sifatnya supresi dan obat antihistamin Tidak ada indikasi tindakan abortus provokatus pada penderita hamil influensa. Bila ada komplikasi ke arah pneumonia penderita segera dirawat da antibiotika. Perawatan harus intensif.

2. Bronkitis
Bronkitis akut dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Perlu pengobatan yai dan cepat, agar penyakit tidak menular ke paru-paru sehingga timbul pneu Bila timbul pneumonia, angka mortalitas ibu cukup tinggi dan pada janii terjadi abortus atau partus prematurus.
Pengobatan: penderita harus banyak istirahat baring, minum banyak, dar obat-obat bronkodilator. Antibiotika ampisilin 200 - 500 mg peroral tiap 6 jam sangkaan ada infeksi bakteri. Lakukan pengambilan sputum untuk biakan kepekaan kuman. Kemudian pemberian antibiotika yang lebih tepat bila

3. Pneumonia
Pneumonia dalam kehamilan merupakan penyebab kematian non obstetri terbesar setelah penyakit jantung. Oleh karena itu pneumonia harus segera di dalam kehamilan, segera dirawat dan diobati secara intensif untuk m( timbulnya kematian janin/'ibu, terjadinya abortus, persalinan prematur atau ks dalam kandungan. Pneumonia dapat disebabkan oleh virus, bakteri maul kimia. Untuk keperluan diagnostik dan pengobatan perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, antara lain:
1) foto toraks anterior posterior dan lateral;
2) pemeriksaan gas darah (darah arterial);
3) sputum diambil dan diperiksa menurut pulasan gram, dan dibiak;
4) darah diambil, juga dibiak
Pengobatan: penderita diistirahatkan dalam keadaan berbaring, diberi 02 memberikan obat-obat yang sifatnya narkotik atau menahan batuk. Diberiob antipiretika untuk menurunkan suhu badan penderita, koreksi kelainan el, atau gas darah bila ada, berilah antibiotika, karena sering kali pneumoni disebabkan oleh virus atau zat kimia disertai pula oleh infeksi kuman-kt Pada pneumonia aspirasi karena masuknya isi lambung ke dalam paru-paru sering dijumpai setelah pemberian anestesi pada saat persalinan atau operas penanganannya adalah sebagai berikut.
Segera dipasang tabung endotrakeal dan dilakukan pengisapan, kalaL dilakukan bronkoskopi bila partikel yang masuk terlalu besar. Oksigen di) dan gas darah arterial diperiksa berulang-ulang; segera dilakukan koreksi E kelainan, dan pernapasan dibantu dengan alat ventilator. Diberi aminopilin IN mcncegah bronkospasmus, 4 6 mg/kg dalam 15-30 menit. Berikan kortiku dosis tinggi sepera hidrokortison 1 gram i.v. dalam 24 jam yang diberikan dalam empat kali per hari yaitu tiap 4-6 jam. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi.

4. Asma bronkiale
Asma bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran napas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Penderita biasanya pernah berobat ke dokter lain. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma tidaklah selalu sama pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma, serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik dalam kehamilan, lebih dari 1/s akan menetap, serta kurang dari 1/3 lagi akan menjadi buruk atau serangan bertambah. Biasanya serangan akan timbul mulai usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu, dan pada akhir kehamilan serangan jarang terjadi.
Pemeriksaan yang dilakukan oleh tim ahli asma Kalifornia (tahun 1983) pada 120 kasus asma yang hamil, dan terkontrol baik, terdapat 90% dari penderita tidak pernah dapat serangan dalam persalinan, 2.2% menderita serangan ringan dan hanya 0.2% yang menderita asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obat intravena. Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (02) atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi keguguran, persalinan prematur atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan (gangguan pertumbuhan janin).
Faktor pencetus timbulnya asma, antara lain zat-zat alergi, infeksi saluran napas, pengaruh udara dan faktor psikis. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik, biasanya penderita mengeluh napas pendek, berbunyi, sesak dan batuk-batuk. Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma di luar kehamilan.
Penanganan
1) Mencegah timbulnya stress
2) Menghindari faktor risiko (pencetus) yang sudah diketahui, secara intensif.
3) Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacam yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan.
4) Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat lokal yang berbentuk inhalasi, atau per oral seperti isoproterenol.
5) Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat dan serangan dapat dihilangkan dengan satu atau lebih dari obat di bawah ini.
a. Epinefrin yang telah dilarutkan (1 : 1000), 0,2-0,5 ml, disuntikkan subkutin.
b. Isoproterenol (1 : 100) berupa inhalasi 3-7 hari.
c. Oksigen
d. Aminofilin 250-500 mg (6 mg/kg) dalam infus glukose 5%
e. Hidrokortison 260-1000 mg iv pelan-pelan atau perinfus dalam 10%.

Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat gangguan pada janin, dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdap Persalinan biasanya dapat berlangsung spontan akan tetapi bila pende dalam serangan dapat diberi pertolongan dengan tindakan seperti dengai vakum atau forseps. Tindakan seksio sesarea atas indikasi asma jarang atau dilakukan.

5. Tuberkulosis paru
Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan t sekitarnya.
Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan y ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nal berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sal Pada pemeriksaan fisik mungkin didapat adanya ronkhi basal, suara ka pleural efusion. Penyakit TBC paru ini mungkin bentuknya aktif atau k mungkin pula tertutup atau terbuka.
Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu diperh dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita dengan TBC paru dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat diagnosis secara past untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada ibu yang sedang hamil 1 dengan baik tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. Pada janin jaran TBC kongenital, janin baru tertular penyakit setelah lahir, karena di disusui oleh ibunya.



Penanganan
Pada penderita dengan proses yang masih aktif, kadang-kadang perawatan, untuk membuat diagnosis serta untuk memberikan pendid diterangkan pada penderita bahwa mereka memerlukan pengobatan yang dan ketekunan serta ada kemauan untuk berobat secara teratur. Per sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh Penderita dididik untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk, Pengobatan terutama dengan kemoterapi, dan sangat jarang diperluka operasi.
Pada penderita TBC paru yang tidak aktif, selama kehamilan tidak perlu dapat pengobatan. Sedangkan pada yang aktif, dianjurkan untuk menggunakan obat dua macam atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman, dan isoniazid (INH) selalu diikutkan dalam regimen pengobatan tersebut.

Obat-obat yang dapai dagunakan
1. Isoniazid (INH), dengan dosis 300 mg/hari. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati, sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang, mual dan muntah. Oleh karena itu perlu diperiksa faal hati sewaktu¬waktu, dan bila ada perubahan, maka obat untuk sementara harus segera dihentikan.
2. Ethambutol dengan dosis 15-20 mg/kg/hari. Dilaporkan obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis akan tetapi laporan samping efek obat ini dalam kehamilan sangat sedikit, dan pada janin belum ada.
3. Streptomycin dengan dosis i g/hari. Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan, dan jangan digunakan dalam kehamilan trimester pertama. Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik), di samping itu pemberian obat ini kurang menyenangkan pada penderita, karena harus disuntikkan setiap hari. Dilaporkan bila dosis yang diberikan < 30 g selama kehamilan, tidak banyak atau jarang ada pengaruhnya pada janin.
4. Rifampisin dengan dosis 600 mg/hari. Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC paru, akan tetapi mempunyai efek potensial teratogenik yang besar pada binatang percobaan. Pada manusia belum banyak laporan, dan dianjurkan untuk tidak menggunakannya dalam trimester pertama.
Pemeriksaan sputum setelah i-2 bulan pengobatan, harus dilakukan dan kalau masih positif, perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. Tidak ada indikasi untuk melakukan tindakan pengguguran kehamilan pada penderita TBC paru. Antenatal care dapat dilakukan seperti biasa. Dianjurkan penderita datang sebagai pasien permulaan atau terakhir dan segera diperiksa, agar tidak terjadi penularan pada orang-orang di sekitarnya.
Persalinan pada wanita yang tidak dapat pengobatan dan tidak aktif lagi, dapat berlangsung seperti biasa, akan tetapi pada mereka yang masih aktif, penderita di tempatkan di kamar bersalin tertentu (tidak banyak digunakan penderita lain). Persalinan ditolong dengan tindakan ekstraksi vakum atau forseps, dan sedapat mungkin penderita tidak meneran, diberi masker untuk menutupi mulut dan hidungnya agar tidak terjadi penyebaran kuman ke sekitarnya.
Cegah terjadinya perdarahan postpartum seperti pada pasien-pasien lain pada umumnya. Setelah penderita melahirkan, penderita dirawat di ruang observasi 6-8 jam, kemudian penderita dapat dipulangkan langsung. Diberi obat uterotonika, dan obat TBC paru diteruskan, serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. Penderita yang tidak mungkin dipulangkan, harus dirawat di ruang isolasi. Pcrawatan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mcndcrita TBC paru haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya, agar anaknya tidak ketularan oleh ibm keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya, sampai il: memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan p sputum sebanyak 3 kali, yang selalu memperlihatkan hasil negatif. Pada suntikan Mantoux sampai menunjukkan reaksi positif. Bila suntikan BC sebaiknya segera diberikan pada bayi setelah lahir, atau bila reaksi Mantoux negatif.
Yang penting adalah pendidikan pada penderita dan keluarganya tenta penyakit TBC paru yang sedang diidap serta bahaya penularan penyak pada anaknya, sehingga penderita dan keluarganya menyadari sepenuhny na cara melakukan perawatan bayinya dengan baik.

B. Penyakit Traktus Digestivus, Hepar dan Pankrieas
Terdapatnya perubahan fungsi alat pencernaan dalam kehamilan adalah hal yang biasa. Perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak berarti dan tidak berbahaya, dan akan dapat ditanggulangi dengan mudah dengan penerangan, obat-obat yang relatif ringan atau dengan melalui pendekatan psikologik.
Ada tiga faktor yang menyebabkan perubahan fungsi alat pencernaan tersebut dalam kehamilan, yaitu perubahan hormonal, anatomik dan fisiologik kehamilan, dan ketiga faktor tersebut akan memberikan pengaruh pada fungsi alat pencernaan. Selama kehamilan akan terjadi pula penurunan gerakan saluran alat cerna karena tonus otot-otot alat pencernaan yang berkurang, di samping itu terdapat pula perubaltan Ietak serta penekanan yang disebabkan oleh pembesaran rahim (uterus). Perasaan mual, muntah, nafsu makan menurun, ketidaksukaan pada makanan tertentu atau bau-bauan yang dapat diobati dengan menghindari makanan atau bau¬bauan tersebut atau dengan pemberian obat-obat yang relatif ringan ternyata sudalt cukup. Akan tetapi kadang-kadang keluhan wanita hamil tersebut sangat berlebihan sehingga dapat membahayakan kesehatan atau jiwanya, maka perlu dipikirkan penyebab lain, yang ikut berperan sebagai penyebabnya seperti seot-ang wanita hamil yang menginginkan makanan tertentu yang tidak lazimnya dimakan orang, umpamanya tepung kanji, makanan mentah, garam, lempung, tanah dan sebagainya. Penyebab kelainan ini sangat erat hubungannya dengan faktor sosial, tingkat kebudayaan dan sebagainya, sehingga pengobatannya haruslah melalui pendekatan psikologik dan kelainan seperti ini disebut pica (ngidam dalam bahasa Jawa). Begitu pula tak jarang disalahtafsirkan gejala-gejala penyakit organ dalam rongga perut yang gawat dianggap sebagai gangguan yang disebahkan oleh kchamilan biasa.







MULUT
1. Ptialismus (syalorea, hipersalivasi)
Pada kehamilan trimester pertama, kemungkinan dijumpai produk berlebihan dari biasa, sehingga menyebabkan wanita hamil terseb~ membuang ludah. Produksi air ludah yang berlebihan ini disebut ptialis karena ketidaksanggupan wanita tersebut menelan air ludahnya sebaga perasaan mual. Pengobatan khusus t:idak ada, cukaap dengan pen penerangan secara psikologik.

2. Gingivitis dan epulis
Dalam kehamilan sering gusi menjadi bengkak dan lemah serta mud terutama pada waktu gosok gig' atau sentuhan yang ringan lainnya. H pengaruh dari hormon estrogen yang meningkat.
Seringkali tirnbul stomatitis dan gingivitis dalam kehamilan, dan un perawatan mulut agar selalu bersih selama kehamilan. Kadang-kadan pula pembengkakan gusi setempat dan banyak mengandung pembuh darah, sehingga mudah berdaralt. Kelainan ini disebut epulis gravidarum khusus tidak ada, dan setelah lahir epulis tersebut akan hilang sendiri

3. Karies dentis
Dalam kehamilan sering dijumpai gingivitis dan karies dentis, akan beralasan kehamilan sebagai penyebab meningkatnya kejadian karies dentis sebelum hamil sudah ada, dan kekurangan kalsium akan kerusakan giginya seperti juga terjadi sebelum ltamil. Pengobatan yaitu dengan merawat gigi, mulut, serta mencukupi kebutuhan kalsium dalam kehamilan.

ESOFAGUS
1. Pirosis (heartburn, nyeri dada)
Pirosis ialah perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi lambung ke d bagian bawah. Keluhan sering ditemukan dalam kehamilan, terutama tengkurap, atau menelan sesuatu makanan tertentu atau obat. Pada kehamilan tua mungkin kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh tekanan rahim yang membesar. Pada esofagus terjadi esofagitis, akan tetapi pada en( kelihatan ada tanda-tanda radang, hanya secara histologik dapat diliha tersebut berisi aa:uo klurida, pepsin serta makanan. pirosis biasan; mcnitnbulkan komplikasi srprrti strikmra, perdar-ahan, karena waktu sebentar saja. Pengobatan cukup dengan memberikan obat antasid, mengubah posisi tubuh dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap setelah makan. Keadaan yang lebih berat, kadang-kadang menyebabkan penderita sulit menelan, ada perdarahan (hematemesis), sebagai akibat terjadi esofagitis erosif. Pengobatannya tetap seperti diuraikan di atas, yaitu konservatif.

2. Esofagftis erosiva
Esofagitis erosiva merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi lambung ke dalam esofagus, dan agaknya tidak mempunyai hubungan dengan hiperemesis gravidarum. Gejala yang paling sering dijumpai ialah nyeri waktu menelan (disfagia) disertai pirosis. Hematemesis dapat terjadi, dan esofagoskopi menunjukkan erosio berdarah pada selaput lendir satu pertiga bawah esofagus.
Penanggulangan sama dengan pada pirosis biasa. Apabila terjadi hematemesis, penderita disuruh minum air es atau menelan es batu kecil-kecil. Biasanya kelainan ini sembuh sama sekali dengan sendirinya setelah kelahiran. Striktura esofagei yang sampai memerlukan dilatasi jarang terjadi.

3. Varises esofagei
Varises esofagei akibat sirosis hepatis menjadi lebih besar dan lebih mudah pecah dalam kehamilan, karena hipervolemia kehamilan dan hipertensi portal.

LAMBUNG
1. Hernia hiatus diafragmatika
Hernia hiatus driafragmatika ialah masuknya bagian atas lambung ke dalam lubang diafragma. Kelainan ini sering dijumpai dalam kehamilan, kira-kira 17%, terutama dalam kehamilan trimester III, dan lebih sering pada multipara dalam usia lanjut. Kelainan ini akan sembuh sendiri, setelah anak lahir. Penderita mungkin mengeluh tentang gangguan pencernaan berupa pirosis, muntah, kadang-kadang hematesis, berat badan menurun, atau kadang-kadang tak ada keluhan sama sekali. Kalau keluhan meningkat, mungkin ada hubungan dengan dua faktor, yaitu wanita tersebut telah rnenderita hernia hiatus dan isi lambung yang bertambah besar. Sering dokter mengira gejala-gejala tersebut disebabkan oleh karena hamil biasa, sedangkan kalau diperiksa dengan foto rontgen mungkin dijumpai adanya hernia. Hernia hiatus jarang mengalami strangulasi hernia dalam kehamilan, dan kalau ada biasanya penderita mengeluh sesak napas, sianotik, kadang-kadang dapat jatuh dalam syok.
Penanganannya adalah simptomatik, penderita ditidurkan setengah duduk, makanan diberikan dalam porsi kecil-kecil. Kalau hernia tersebut telah diketahui sebelum hamil, sebaiknya penderita tidak hamil, atau dilakukan operasi lebih dulu.

2. Ulkus peptikum
Ulkus peptikum jarang dijumpai dalam kehamilan, perjalanan penyakitnya bervaria¬si. Pada wanita yang mempunyai ulkus peptikum sebelum hamil, biasanya setelah hamil, penyakit akan menjadi lebih baik, bahkan dapat sembuh. Terus trimester pertama dan kedua, karena rendahnya sekresi asam lamek, meningkatnya produksi getah lambung, walaupun kadang-kadang ulkus lebih hebat gejalanya dan yang sering dijumpai adalah rasa kejang dan peril bagian atas (yang dapat hilang dengan memakan makanan atau obat alk; panas, rasa tak enak di daerah epigastrium. Gejala lebih sering terjadi atau di atau 3 jam sesudah makan. Perforasi jarang terjadi. Oleh karena itu penanga peptikum dalam kehamilan umumnya konservatif, jarang atau hampir dengan tindakan operatif.

3. Gastritis
Diagnosis gastritis sering dibuat dalam kehamilan muda, hanya atas dasaj penderita, seperti mual, muntah-muntah, tidak ada nafsu makan, nyeri epigastrium dan sebagainya. Dan setelah diperiksa dengan teliti ternyata tidak menderita gastritis akan tetapi. mungkin emesis (hiperemesis), esofagitis. Sering dilakukan pemeriksaan radiologik oleh dokter untuk diagnosis. Hal ini tentu tidak baik, karena sinar X, mempunyai pengaruh t pada janin. Oleh karena itu haruslah hati-hati untuk membuat diagnosis Perhatikanlah dan lakukanlah anamnesis dan pemeriksaan dengan telit penderita sedang hamil muda atau tidak. Bila hamil muda sedapat mungki pembuatan foto riintgen. Penderita diobservasi, dan ditentukan terapi kc seperti gastritis di luar kehamilan. Biasanya keluhan akan hilang setelah tri bila disebabkan oleh kehamilan.

USUS HALUS
1. Ileus
Baik ileus obstruktif maupun ileus paralitik dapat dijumpai dalam keham kadang-kadang tidak diketahui, karena gejala-gejalanya sering disalal sebagai gejala-gejala kehamilan biasa, seperti mual, muntah, konstipas kontraksi, kejang otot dan sebagainya. Ileus obstruksif ini dapat disebal; volvulus, lrernia inkarserata, intususepsi, tumor kolon, dan perlekai merupakan penyebab yang sering dijumpai. Oleh karena itu perlu diperha ditanyakan tentang; operasi perut yang terdahulu. Diagnosis dibuat atas dasar gejala muntah-muntah, konstipasi, bising usus meningkat seperti bunyi logam. Foto abdomen walaupun pemeriksaan X ray secara umum dilarang dalam kehamilam, namun keadaan tertentu perlu dilakukan. Seperti pada sangkaan ileus obstruktil pada gambaran foto rontgen, usus di bagian proksimal obstruksi melebar, bayangan permukaan cairan (fluid Ievel).
Begitu juga bila diagnosis ragu-ragu, maka tindakan laparotomi eksplorasi lebih baik dilakukan daripada bersikap menunggu, yang kemudian menimbulkari keadaan fatal. Dalam kehamilan biasa, tonus dan peristaltik usus berkurang, sehingga tak jarang menyebabkan konstipasi atau sulit buang air besar. Kadang-kadang dapat timbul gejala-gejala ileus paralitik dalam kehamilan dan nifas, dan hal ini haruslah dibedakan dari ileus obstruktif dan peritonitis. Pada ileus paralitik tanpa komplikasi lain sepeni di atas, terapi untuk ini adalah konservatif, yaitu dengan memberikan infus dan makanan parenteral, pemasangan pipa hidung-lambung, dan cairan lambung diisap terus menerus, sena pemberian antibiotika, vitamin aneurin 25-50 mg intra muskular, dan biasanya dalam waktu 3-5 hari akan sembuh.

2. Volvulus
Dengan makin tuanya kehamilan dan makin membesarnya uterus, usus-usus halus dapat terputar pada pangkalnya, sehingga terjadi penjiratan (strangulas:) seluruh ileum. Akibatnya sangat gawat dan menyebabkan kematian apabila tidak segera dikenal dan dioperasi. Keadaan lain yang dapat pula menyebabkan volvulus ialah perpanjangan mesokolon, hernia diafragmatika, perlekatan usus, dan terdapatnya pita kongenital di dalam rongga perut.
Gambaran klinik berupa perut yang menunjukkan tanda-tanda gawat mendadak (acute abdomen) terdiri atas gejala-gejala obstruksi usus disertai muntah-muntah yang hebat. Keadaan umum cepat memburuk akibat gangguan elektrolit dan keracunan; nadi sangat cepat dan suhu meningkat. Penderita harus segera dioperasi.



3. Hernia
Pelbagai macam hernia dapat dijumpai dalam kehamilan, sepeni hernia inguinalis, femoralis, umbilikalis, dan sikatrisea, yang biasanya tidak menimbulkan keluhan. Hernia diafragma telah dibicarakan di atas.
Membesarnya uterus mendorong usus-usus lebih jauh dari cincin hernia, sehingga inkarserasi jarang terjadi dalam kehamilan, juga dalam persalinan kala II, walaupun wanita meneran-neran. Sebaliknya, dalam nifas cincin dapat menjadi lebih besar dan usus dapat masuk ke dalam kantong hernia. Walaupun demikian, inkarserasi juga jarang terjadi dalam nifas. Gejala-gejala ileus pada hernia dapat timbul pada setiap saat dalam kehamilan dan nifas apabila ada perlekatan usus yang terjepit, terputar, atau tenarik.
Penanganan hernia dalam kehamilan sama dengan di luar kehamilan apabila timbul gejala-gejala gawat. Dalam persalinan sebaiknya wanita tidak meneran terlarqpau kuat apabila kantong hernia menjadi lebih besar; dan jikalau syarat-syarat sudah dipenuhi, persalinan diakhiri dengan ekstraktor vakum atau cunam.
Hernia umbilikalis dan hernia sikatrisea tetap membesar oleh kehamilan. Apabila ada perlekatan usus dengan omentum, tarikan pada omentum scring menyebabkan rasa nyeri.

4. Ileitis regionalis
Ileitis regionalis, sepeni dilaporkan oleh Crohn dan Yarnis, merupakan suatu proses granulomatus ileum bagian akhir yang tidak khas yang meliputi peradangan nekrosis, ulserasi, dan perparutan. Penyakit ini biasanya dijumpai pada orang dewasa muda dan jarang pada wanita hamil. Gejala-gejala sangat bervariasi, tergantung lamanya penyakit, bersifat aktif dan luasnya ileum yang terkena proses; diantaranya nyeri perut, diarea, demam ringan, terabanya tumor di perut, perda perforasi usus. Anamnesis yang teliti dan pemeriksaan roentgen dapat r diagnosis. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat setelah perut dibuka kehamilan pada ileitis regionalis tidak pasti dan sangat bervariasi; ada ya lebih baik dalam kehamilan, ada yang sama, ada pula yang menjadi lebih buruk
Apabila penderita menunjukkan gejala-gejala yang berat dan rea terhadap kehamilannya, maka bekerja sama dengan psikiater dapat dipertimbagkan abortus buatan, walaupun ini jarang diperlukan.

USUS BESAR
1. Appendisitis akuta
Kejadian appendisitis akuta dalam kehamilan dan di luar kehamilan tidakl: Kejadiannya satu di antara 1000 sampai 2000 wanita hamil. Akan teta perforasi, lebih sering pada kehamilan, yaitu 1,5 sampai 3,5 kali dari a hamil. Hal ini karena diagnosis dini appendisitis akuta kadang-kadang s sering meragukan, atau dikacaukan oleh keadaan-keadaan lain seperti:
a. Gejala dan tanda rasa mual, muntah, anoreksia, perut gembung, dan nyeri sering dijumpai pula pada kelainan lain dari appendisitis.
b. Adanya leukositosis fisiologik dalam kehamilan yang mungkin jumlah leukosit pada appendisitis akuta.
c. Berpindahnya letak soekum akibat dorongan rahim yang makin menyebabkan letak appendiks juga berpindah. Pada akhir penen kelramilan, appendiks terletak di bagian kanan atas, sehingga gambaran yang diberikan oleh appendisitis yang biasa tidak menunjukkan ga seperti di luar kehamilan.
d. Adanya relaksasi otot-otot dinding perut pada kehamilan lanjut, menyebabkan tanda-tanda nyeri, kekakuan dinding perut, menjadi tak jelas.
e. Tanda-tanda appendisitis akuta, kadang-kadang diperlihatkan pula oleh kelainan, seperti pada kehamilan muda dengan adanya kista yang membatu ureter, pielonefritis akuta, salpingitis akuta; rasa nyeri dari rotundum pada kehamilan lebih lanjut, solusio plasenta tingkat permulaan saluran kemilan, perslinan prematur, obstruksi usus Italus. Pada masa nifas adanya andometritis atau adneksitis

Mengambil tindakan konsetvatif adalah salah, sebab bila appendisitis tersebut mengalami perforasi karena tindakan terlambat dapat menimbulkan kematian ibu DAN janin. Insisi perlu dibuat lebih tinggi dari biasa yaitu paramedial kanan kira-kira setinggi fundus uteri. Manipulasi pada uterus gravidus ini sedapat mungkin dihindari, dan drain hanya dipasang apabila ada abses. Biasanya kehamilan akan berlangsung terus sampai saat persalinan. Bila appendisitis akuta dibuat pada kehamilan lebih dari 34-35 minggu, dilakukan seksio sesarea dan appendektomia. Uterus yang membesar tersebut akan menyulitkan mencari appendiks di samping itu bila penderita masuk dalam persalinan pasca laparotomi, luka dapat terbuka kembali karena luka belum sembuh sempurna dan belum kuat. Kalau terjadi perforasi atau abses dipertimbang¬kan untuk melalkukan appendektomia dan seksio histerektomia. Prognosis appendi¬sitis dalam )kehamilan lebih buruk dari di luar kehamilan, dan diagnosis dini serta tindakan yang segera diambil berupa laparatomi dan pemberian antibiotika, akan dapat menolong penderita serta akan memperbaiki prognosis. Komplikasi yang sering atan mungkin dijumpai pada kehamilan adalah abortus atau partus prematuros.

2. Kolitis ulserosa
Kolitis ulserosa yang biasanya menahun merupakan suatu penyakit peradangan disertai ulkus-ulkus pada mulanya di rektum, kemudian menjalar ke atas dan dapat sampai lie usas halus. Perjalanan penyakit dalam kehamilan tak dapat diramalkan sebelumnya, sangat bervariasi. Biasanya bagian usus yang terserang adalah mukosa dan submukosa, jarang lapisan otot DAN serosa. Gejala-gejala klinik tersering adalah diarea dengan darah, nanah atau lendir, badan panas, leukositosis, takikardia, perut terasa tidak enak, malas makan dan berat badan menurun. Komplikasi penyakit ini mungkin dapat terjadi perforasi, perdarahan sehingga penderita jadi anemia, defisiensi protein dan vitamin.
Pengarah penyakit ini terutama terhadap kesehatan ibu, pada janin atau kehamilan tidak begita banyak. Sedangkan pengaruh kehamilan pada penyakit ini, dapat menimbulkan )keadaan lebih berat, yaitu penyakit yang tadinya kurang aktif dapat jadi aktif, terutama pada trimester pertama dapat terjadi perforasi. Etiologi penyakit ini secara pa.sti belum diketahui, akan tetapi faktor psikogenik dianggap mempunyai pengaruh penting pada kolitis ulserasi ini, seperti perubahan-perubahan emosionil, kecemasan, ketakutan dan lain-lain selama kehamilan.
Penerangan segera diberikan pada penderita kolitis ulserosa ini, baik : hamil maupun dalam kehamilan. Perhatikan dan terangkan faktor p penderita, diet yang cukup mudah diserap, kalau perlu diberi antidi, antibiotika. Mereka yang telah hamil, kehamilan dapat diteruskan, dan pe dapat per vaginam. Pada keadaan di mana anak sudah cukup, penderita m( kolitis ulserosa, sebaiknya tidak hamil lagi, DAN ikut keluarga berencana dilakukan sterilisasi.

3. Tumor Ganas Usus Besar
Tumor ganas usus besar, biasanya karsinoma, jarang dijumpai dalam kehamilan tidak terdapat bukti-bukti bahwa kehamilan mempengaruhi jalannya karsino et rekti. Karena itu, abortus buatan tidak dilakukan. Walaupun demikian peny dapat mempersulit persalinan.
Penanggulangan tumor ganas usus besar dalam kehamilan ialah dengai operasi, sama seperti di luar kehamilan. Apabila operasi dilakukan dalam triw dan III, maka mungkin uterus serta isinya perlu diangkat untuk memudahkan, rektum. Pada penderita karsinoma kolon, apabila kehamilannya sudah cukup dapat ditunggu partus per vaginam. Apabila terdapat gejala-gejala obstruks mungkin diperlukan kolostomia sebelum persalinan atau operasi. Dalam keh trimester III sebelum 38 minggu, pada penderita dengan karsinoma rekti dih seksio histerektomia. Setelah anak lahir, selekasnya dilakukan operasi rektum

4. Megakolon
Megakolon sangat jarang dijumpai dalam kehamilan. Usus besar yang sangat dan terisi penuh dengan skibala menyebabkan konstipasi yang kadang-kadang sulit untuk diatasi. Dalam persalinan megakolon yang terisi penuh, menghalang-halangi turunnya kepala, sehingga dapat terjadi ruptura uteri

DAERAH ANUS
1. Pruritus ani
Pruritus ani kadang-kadang dijumpai dalam kehamilan dan dapat sangat mengganggu penderita. Biasanya pengobatan juga sulit. Rasa gatal dapat terbatas di daerah perianal atau menjalar lebih luas sampai di daerah kelamin, bagian dalam paha, dan pantat. Karena rasa gatal, daerah itu digaruk, yang menimbulkan/menambah iritasi kulit; dan seterusnya ini menambah rasa gatal.
Pruritus ani dapat dibagi dalam 2 golongan: 1) yang mempunyai sebab organik, dan 2) yang disebabkan faktor psikogenik. Dalam golongan pertama termasuk pruritus yang disebabkan faktor psikogenik. Dalam golongan pertama termasuk pruritus yang disebabkan oleh fissura et fistula ani, proktitis, wasir, jamur, diabetes mellitus, alergi terhadap benang sintetik pakaian dalam, atau ukuran pakaian yang tidak sesuai. Golongan kedua biasanya disebabkan oleh konflik emosional dalam kehamilan yang berdasarkan ketidakmatangan psiko-seksual.
Penanggulangan harus dimulai dengan menghilangkan/menghindarkan faktor penyebabnya. Iritasi kulit akibat garukan diobati dengan salep kortison. Apabila pengobatan tidak berhasil dan tidak diaemukan sebab organik, maka sebaiknya dimintakan konsultasi pada psikiater.
2. Wasir (hemoroid)
Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. Hemoroid ini lebih nyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang¬kadang tidak menimbulkan keluhan, sedang yang besar sering menimbulkan keluhan bahkan dapat menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan pada saat buang air besar, serta ada sesuatu yang keluar dari anus.
Wasir dapat didiagnosis dengan mudah, yaitu adanya keluhan rasa perih di daerah , perdarahan, serta pada pengamatan diternukan vena yang membengkak di anus atau dl rektum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil sendirinya.
Pada hemoroid yang besar, yang menjadi keluar baik dalam kehamilan atau masa nifas, yang menimbulkan keluhan, perlu dilakukan antara lain reposisi oleh dokter maupun oleh penderita sendiri, dengan menggunakan salep antihemoroid. Usahakan penderita agar memakan makanan yang lunak dan tidak meneran. Pada keadaan yang sudah berdarah, diberi anti-salep atau suppositoria. Tindakan sklerosing atau hemoroidektomia jarang diperlukan.

3. Fissura ani
Fisura ani merupakan kelainan yang sering dirasakan sangat nyeri dan terdiri atas luka-luka memanjang pada dinding belakang anus. Asalnya tidak diketahui dengan pasti; mungkin karena trauma pada mukosa dengan kriptitis, atau sebal pecahnya abses kista.
Mula-mula rasa nyeri dialami pada waktu penderita buang air besar, penderita segan untuk ke belakang; kemudian rasa nyeri berlangsun beberapa jam setelah defekasi. Fissura yang baru terjadi dapat diharap sembuh spontan. Akan tetapi, fissura menahun yang disertai peradangan dengan banyak keluhan memerlukan eksisi lebar semua jaringan yang saki insisi muskulus sfingter ani eksternus, juga pada wanita hamil.

HEPAR
Penyakit Hati Bukan Karena Komplikasi Kehamilan
1. Hepatitis infeksiosa
Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati ya sering dijumpai dalam kehamilan. Pada wanita hamil penyebab hepatitis i terutama oleh Virus hepatitis B, walaupun kemungkinan juga dapat Virus h atau hepatitis C. Hepatitis virus dapat terjadi pada setiap saat kehan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibu. Pada trimester perta terjadi keguguran, akan tetapi jarang dijumpai kelainan kongenital (anoi janin), sedangkan pada kehamilan trimester kedua dan ketiga, serin persalinan prematur. Tidak dianjurkan untuk melakukan terminasi pada k dengan induksi atau seksio sesarea, karena akan mempertinggi risiko pada hepatitis B, janin kemungkinan dapat penularan melalui plasenta, waktu ahir atau masa neonatus; walaupun masih kontroversi tentang penularan melalui air susu
Penatalaksanaan yaitu a) istirahat, diberi nutrisi dan cairan yang cukup, kalau perlu intravenus; b) isolasi cairan lambung, darah atau cairan badan lainnya, dan diingatkan ibunya tentang pentingnya janin dipisahkan; c)periksa HBsAg trol kadar bilirubin, Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase (SG07 Glutamik-Piruvik Transaminase (SGPT), faktor pembekuan darah, karena kinan telah ada Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC); e) cegal naan obat-obat yang bersifat hepatotoksik; f) pada ibu yang HBsAg po; diperiksa HBsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui I pusat; g) tindakan operasi seperti seksio sesarea akan memperburuk prog h) pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2 x 24 jam diberi suntikan anti serum.

2. Penyakit hati karena obat
Obat-obat tertentu dapat menimbulkan gangguan faal hati, bahkan dapat menyebabkan kerusakan fatal seperi fenotiazin, tetrasiklin, klorpeomazin, klorform, arsenamin, fosfor, karbon tetraklorida, isoniazid, asetaminofen. Fenotiazin dan klorpromazin yang digunakan unruk mengurangi rasa mual, muntah-muntah dalam kehamilan dapat menyebabkan ikterus, bila diberikan terlalu lama atau dalam dosis yang besar. Tetrasiklin yang merupakan obat yang dilarang digunakan dalam kehamilan karena dapat menyebabkan kelainan kongenital (teratogenik) pada janin, juga dapat menimbulkan kerusakan pada hati. Begitu pula obat-obat isoniasid, yang selalu diikutkan sebagai obat untuk penyakit TBC, dapat menimbulkan kelainan hati, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan faal hati setelah pengobatan beberapa bulan.

3. Ruptura bepatis
Ruprura hepatis, baik yang traumatik maupun yang spontan, dapat terjadi dalam kehamilan, biasanya yang robek lobus kanan. Mortalitas sangat tinggi, kemungkinan 75% penderita meninggal. Hampir semua penderita yang mengalami ruptura hepatis pernah menderita pre-eklampsia atau eklampsia. Gambaran klinik mencakup nyeri epigastrium, abdomen akut, pekak sisi, pekak beranjak (shifting dullness) dan syok. Penderita dapat diselamatkan apabila ruprura hepatis lekas diketahui dan segera dioperasi.

4. Sirosis bepatis
Kehamilan agaknya tidak mempengaruhi jalannya sirosis hepatis. Sebaliknya, sirosis dapat mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan, tergantung dari beratnya penyakit.
Penderita dengan fungsi hepar yang masih baik dan menjadi hamil, dapat melahirkan biasa tanpa penyakitnya menjadi lebih buruk akibat kehamilannya, asal ia mendapat pengobatan dan perawatan yang baik. Akan tetapi, apabila fungsi hepar sudah terganggu atau ada varises esofagus karena sirosis, sebaiknya penderita tidak hamil. Terutama dalam trimester III dapat terjadi krisis gawat hati (liver failure) dan perdarahan dari varises esofagus. Apabila penderita demikian hamil juga, maka abortus buatan dapat dipertimbangkan, walaupun pada umumnya sirosis saja tidak merupakan indikasi bagi pengakhiran kehamilan.

5. Koklitiasis dan kolesistitis
Kolelitiasis dijumpai 2-3 kali lebih sering pada wanita dari pria, dan kehamilan dianggap sebagai salah satu faktor pencetus dalam terjadinya batu empedu dan penyakit kandung empedu. Kombinasi hiperkolesterolemia dan perlambatan pengosongan kandung empedu dalam kehamilan memudahkan terbentuknya batu empedu. Sebaliknya wanita hamil jarang mengeluh tentang serangan kolik empedu. Hal ini terjadi adanya anggapan bahwa kurangnya tonus otot polos yang memudahkan keluarnya batu-batu kecil saluran empedu ke dalam duodenum. Gejala-gejala kolelitiasis berupa nyeri perut sebela}i kanan atas atau di dacrah epigastrium yang mungkin gradual atau mendadak (tiba-tiba) yang menjalar ke dada bagian kanan atas atau ke bahu belakang kanan. Bila penyumbatan total, n kolik empedu tetap, penderita enek-enek, muntah, demam dan menggigil (k, tis), dan ikterus. Pada penderita mungkin sebelumnya telah ada sakit k empedu, atau makan yang telah diatur, di mana la tak tahan lemak. Pada pemc didapatkan penderita panas, kuning dan nyeri di perut kanan atas, leukc sedangkan urin normal.
Penanggulangan kolelitiasis atau kolesistitis dalam kehamilan, pada un konservatif yaitu istirahat, diet dan antibiotika. Tindakan operasi jarang dil; kecuali disangka atau didapatkan komplikasi berupa infeksi makin berat, n gangren atau perforasi.


Penyakit Hati Akibat Komplikasi Kehamilan
Beberapa komplikasi kehamilan dapat menyebabkan kelainan/penyakit h;
1. Ikterus rekurrens gravidarum
Dalam kehamilan, terutama dalam triwulan terakhir, dapat timbul ikterus ya: diketahui etiologinya, sering dimulai dan disertai dengan rasa gatal di selurul Kelainan ini sembuh dengan sendirinya dalam 2 minggu pertama nifas, untul lagi dalam kehamilan-kehamilan berikutnya. Nama-nama lain yang ser-ing di} untuk kelainan ini ialah ikterus idiopatik kehamilan, kolestatis idiopatik/ini tik, hepatotoksemi endogen, atau hepatosis obstetrik.
Kelainan utamanya ialah kolestasis intrahepatik dengan pewarnaan em tengah lobulus hepatis tanpa peradangan atau proliferasi mesenkim. Sel-sel h mengalami kerusakan. Secara klinis jalannya penyakit ringan. Selain ikte pruritus, gejala-gejala lain dapat pula dijumpai, seperti meningkatnya 1 (ringan), fosfatase alkalis (tidak selalu), dan glutamin oksaloasetik transmina: serum. Anoreksia, mual, muntah, nyeri epigastrium, dan diare serii merupakan keluhan penderita. Dalam diagnosis diferensial perlu disic kemungkinan penyakit hati lain, seperti hepatitis virus, keracunan obat, c empedu. Hilangnya gejala-gejala dalam masa nifas menyokong diagnosis. Pc an terutama simptomatik. Karena jalannya penyakit ringan dan tidak terdap; bukti yang menunjukkan pengaruh tidak baik terhadap janin, maka pen; kehamilan tidak diperlukan. Fenothiazide dengan tujuan untuk mengura gatal tidak boleh diberikan karena obat ini dapat menyebabkan ikterus. kadar protrombin rendah, penderita diberi suntikan vitamin K.

1. Atrofi kuning mendadak bati (acute yellow liver atropby)
Atrofi kuning mendadak hati sangat jarang dijumpai dalam kehamilan, dan dapat dibagi dalam 2 jenis, yakni a) atrofi kuning, mendadak akibat hepatitis virus dankeracunan obat; dan b) atrofi kuning mendadak obstetrik semata-mata akibat kehamilan.
a. Atrofi kuning mendadak akibat hepatitis dan obat ditandai dengan nekrosis luas jaringan hati tanpa infiltrasi lemak, dan dapat disertai gawat ginjal mendadak. Keadaan penderita sangat cepat memburuk, disertai ikterus yang berat dan koma; tidak lama kemudian biasanya penderita meninggal. Penyakit ini dapat dijumpai baik pada wanita hamil maupun pada wanita tidak hamil, dan pria.
b. Atrofi kuning mendadak obstetrik, yang khas bagi kehamilan, dilaporkan oleh Sheehan Ober dan Le Compte, dan Kahil dkk. Gejala-gejalanya biasanya timbul tiba-tiba dalam bulan terakhir kehamilan dengan muntah-muntah hebat dan nyeri epigastrium, disusul oleh ikterus yang progresif, koma, dan biasanya kematian. Penderita dapat melahirkan anak mati 7-12 hari setelah timbulnya gejala-gejala.

Etiologinya tidak diketahui dengan pasti. Mungkin sekali penyakit ini disebabkan oleh reaksi peka yang berlebihan terhadap suatu zat yang dihasilkan oleh kesatuan fetoplasenta, atau terhadap zat-zat eksogen.
Secara histologik kelainan yang sangat menonjol ialah infiltrasi lemak sel-sel hati tanpa peradangan dan nekrosis; selebihnya arsitektur jaringan hati tetap baik. Gambaran ini lazim disebut metamorfosis lemak hati. Atrofi hati tetrasiklin pada dasarnya sama; hanya sel-sel periportal ikut pula mengalami infiltrasi lemak. Sebaliknya, atrofi akibat hepatitis infeksiosa menunjukkan gambaran yang lain: tidak terdapat infiltrasi lemak, melainkan nekrosis sel-sel hati dan sel-sel periportal. Seperti pada atrofi hati mendadak lain-lain, tidak banyak dapat dilakukan untuk menyela¬matkan ibu dan janin. Pengobatan semata-mata simptomatik. Tidak terdapat bukti¬bukti yang meyakinkan bahwa pengakhiran kehamilan mernperbaiki prognosis. Apabila janin masih hidup, induksi persalinan dapat dipertimbangkan. Seksio sesarea merupakan kontraindikasi, kecuali atas tindakan obstetrik.

PANKREAS
Pankreatitis jarang dijumpai dalam kehamilan akan tetapi dapat diderita wanita hamil. Etiologinya belum diketahui, akan tetapi faktor predisposisi adalah adanya penyakit saluran empedu, peminum alkohol, pemberian obat diuretika thiazide dan antibiotika tetrasiklin. Gejala sering dikeluhkan penderita biasanya nyeri hebat di daerah epigastrium yang menjalar ke belakang, mual dan muntah-muntah, perut gembung, demam, bising usus menurun. Kadang-kadang menggigil dan ikterus ringan. Kira-kira 20% penderita dalam keadaan syok, koma. Laboratorium yang sangat membantu dalam mendiagnosis pankreatitis ini adalah meningkatnya kadar amilase serum dalam waktu 8 jam. Amilase urin juga meningkat di atas 300 unit/jam. Klearens amilase, mungkin lebih . spesifik untuk diagnosis pankreatitis. Bila digunakan hasil konsentrasi amilase dan kreatinin urin yang dikumpulkan bersama¬-sama danan amilase serum, maka akan didapat klearen amilase yaitu :

amilase urin x kreatin urin x 100
amilase serum x kreatinin urin

Bila angka hasil klearens amilase ini lebih besar dari 4.5, maka dapat dii diagnosis pankreatitis. Pengaruh pankreatitis ini pada ibu maupun pada jan tinggi, dilaporkan dapat terjadi kematian ibu 37% dan janin 38%. Oleh k diagnosis dan pengobatan haruslah cepat dibuat dan diberikan. Cara penan~ hampir sama dengan di luar kehamilan yaitu:
1. Ganti kekurangan cairan dalam pembuluh darah dengan darah, albur cairan, dan ini dimonitor dengan CVP (central venous pressure).
2. Monitor elektrolit, glukosa, dan kalsium darah, dan segera dikon menunjukkan kelainan.
3. Pasang slang lambung dan isap untuk mengurangi cairan yang d pankreas.
4. Diberi obat analgetika seperti meperidine 75-100 mg im, tiap 3-4 ja menghilangkan rasa sakit.
5. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.
6. Pengakhiran kehamilan tidak dianjurkan dan tidak diperlukan.
7. Operasi hanya dilakukan pada keadaan tertentu, seperti abses yaj membesar, penyumbatan saluran empedu, perforasi.

C. Penyakit Ginjal Dan Saluran Kemih (Traktus Urinarius)
Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomik gin saluran kemih, yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Apabila hal iru tidak diperhatikan dan diperhitu; ada kemungkinan salah membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dar, Perubahan anatomik terdapat peningkatan pembuluh darah, dan ruangan inte pada ginjal. Dan juga ginjal akan memanjang kira-kira 1 cm. Semuanya it, kembali normal setelah melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pel dalam waktu yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan terutama pada sisi s kanan. Pelebaran yang tidak sama ini mungkin karena perubahan uteru; membesar dan mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pac ovarium kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada yang sebelah kit terdapat karena adanya sigmoid sebagai bantalan. Pelebaran juga karena pei progesteron, sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis fisiologis kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Semua hal di atas dapat dilihat dengan pemeriksaan pielografi intravena (IVP = intra pyelography).

Perubahan fungsi
Segera sesudah konsepsi, terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma Flow - RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (Glomerolus Filtration Rate = GFR). Sejak kehamilan trimester kedua GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai normal wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari kadar kreatinin serum dan urea nitrogen darah. Nilai normal kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/ 100 ml dan urea nitrogen darah 8 mg-12 mg/100 ml.

Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih adalah bila pada pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. Urin yang diperiksa harus bersih, segar dan dari aliran tengah (midstream) atau diambil dengan pungsi suprasimfisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 103 per ml ini disebut dengan istilah bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimptomatik, dan mungkin pula disertai gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun infeksi dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darah atau saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman naik ke atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escherichia coli (E. coli), di samping kemungkinan kuman-kuman lain seperti Enterobacter aerogenes, Klebsiel¬la, Pseudomonas dan lain-lain.

a. Bakteriuria tanpa gejalu (asimptomatik)
Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan prematur, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklampsia. Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yang dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat sulfonamid, ampisilin, atau nitrofurantoin.

b. Bakteriuria dengan gejala (simptomatik)

1. Sistitis
Sistitis adalah peradangan kandung kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. Sistitis ini cukup scring dijumpai dalam kchamilan dan nifas. Kuman penyebab utama adalah E. coli, di samping dapat pula oleh kuman-ku Faktor predisgosisi lain adalah uretra wanita yang pendek, sistokel, adan kemih yang tertinggal, di samping penggunaan kateter yang sering dipa usaha mengeluarkan air kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau F Penggunaan kateter ini akan mendorong kuman-kuman yang ada di ur untuk masuk ke dalam kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak mer kateter, bila tidak perlu betul.
Gejala-gejala sistitis khas sekali, yaitu kencing sakit (disuria) terutama 1 berkemih, meningkatnya frekuensi berkemih dan kadang_kadang diserta bagian atas simfisis, perasaan in gin berkemih yang tidak dapat ditahan, kadang-kadang terasa panas, suhu badan mungkin normal atau meningkat, di daerah suprasimfisis. Pada pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemuk leukosit dan eritrosit dan kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadan€ hematuria sedangkan proteinuria biasanya tidak ada.
Sistitis dapat diobati dengan sulfonamid, ampisilin, eritromisin. Perlu di1 obat-obat lain yang baik digunakan untuk pengobatan infeksi saluran ke tetapi mempunyai pengaruh tidak baik bagi janin, atau pun bagi ibu.


2. Pielonefritis Akuta
Pielonefritis akuta merupakan salah saru komplikasi yang sering dijum kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan te permulaan masa nifas.
Penyakit ini biasanya disebabkan oleh Escherichia coli, dan dapat kuman-kuman lain seperti Stafilokokkus aureus, Basillus proteus, dan pada fase aeruginosa. Kuman dapat menyebar secara hematogen atau limfogen, terbanyak berasal dari kandung kemih. Predisposisinya arltara lain yaitu kateter unruk mengeluarkan air kemih waktu persalinan atau kehamilan, yang tertahan sebab perasaan sakit wakru berkemih kareha trauma persal luka pada )alan lahir. Dianjurkan tidak menggunakan kateter untuk mengel kemih, bila tidak diperlukan betul. Per.derita yang meriderita pielonefri atau glomerulonefritis kronik yang sudah ada sebelum kehamilan, sangat mendorong terjadinya pielonefritis akuta ini.
Gejala-gejala penyakit biasanya timbul mendadak, wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung kemih, tiba-tiba mengigil, badan panas, nyeri di punggung (angulus.kostovertebralis) terutama sebelah kanan.
Pengobatan pielonefritis akuta, penderita harus dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibiotika seperti ampisilin atau sulfonamid, sampai tes kepekaan kuman ada, kemudian antibiotika disesuaikan dengan hasil tes kepekaan tersebut. Biasanya pengobatan berhasil baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat timbul lagi. Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan kemudian penderita harus tetap diawasi akan kemungkinan berulangnya penyakit. Perlu diingat ada obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih seperti tetrasiklin. Terminasi kehamilan segera biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila pengobatan tidak berhasil atau fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu umumnya cukup baik bila pengobatan cepat dan tepat diberikan, sedangkan pada hasil konsepsi seringkali menimbulkan keguguran atau persalinan prematur.

3. Pielonefritis Kronika
Pielonefritis kronika biasanya tidak atau sedikit sekali menunjukkan gejala-gejala penyakit saluran kemih, dan merupakan predisposisi terjadinya pielonefritis akuta dalam kehamilan. Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada keadaan penyakit yang lebih berat didapatkan penurunan tingkat filtrasi glumerolus (G.F.R), dan pada urinalisis urin mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2 g per hari, gumpalan sel-sel darah putih.
Prognosis bagi ibu dan janin tergantung dari luasnya kerusakan jaringan ginjal. Penderita yang hipertensi dan insufisiensi ginjal mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya tidak hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang menderita pielonefritis kronika ini tidak banyak yang dapat dilakukan, dan kalau menunjuk ke arah pielonefritis akuta, terapi seperti yang telah diuraikan. Perlu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita pielonefritis kronika.

4. Glomerulonefritis Akuta
Glomeruionefritis akuta jarang dijumpai pada wanita hamil. Penyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan, dan penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi penyebab biasanya Streptococcus beta-haemolyticus jenis A. Sering ditemukan bahwa penderita pada saat yang sama atau beberapa minggu sebelumnya menderita infeksi jalan pernapasan, seperti tonsillitis, atau infeksi lain-lain oleh streptokokkus, suatu hal yang menyokong teori infeksi fokal.
Gambaran klinik ditandai oleh timbulnya hematuria dengan tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita yang sebelumnya tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan oliguria sampai anuria, nyeri kcpala, dan mundurnya visus (retinitis albuminika). Diagnosis menjadi sulit apahila timbul serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi serebral, uremia, atau apabila timbul edema paru-paru akut. Apabila penyakitnya dalam triwulan III, maka perbedaan dengan pre-eklampsia dan eklamp,, harus dibuat. Pemeriksaan air kencing menghasilkan sebagai berikut proteinuria, ditemukan eritrosit dan silinder hialin, silinder korel dan eritrosit.

Pengobatan sama dengan di luar kehamilan dengan perhatian khusus, baring, diet yang sempurna dan rendah garam, pengendalian hipertei keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk pemberantasan infeksi cuku penisillin, karena streptokokkus peka terhadap penisilin. Apabila ini tidak maka harus dipakai antibiotika yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.
Biasanya penderita sembuh tanpa sisa-sisa penyakit dan fungsi ginjal y, baik. Kehamilan dapat berlangsung sampai lahirnya anak hidup, dan diinginkan wanita 6oleh hamil lagi di kemudian hari. Ada kalanya penyakit menahun dengan segala akibatnya. Pada umumnya prognosis bagi ibu cuk Kematian ibu sangat jarang, dan apabila terjadi biasanya itu disebabl dekompensasi kordis, komplikasi serebro-vaskuler, anuria dan uremia.
Kehamilan tidak banyak mempengaruhi jalan penyakit. Sebaliknya glom fritis akuta mempunyai pengaruh tidak baik terhadap hasil konsepsi; teruta disertai tekanan darah yang sangat tinggi dan insufisiensi ginjal, dapat meny abortus, partus prematurus dan kematian janin.

5. Glomerulonefritis Kronika
Wanita hamil dengan glomerulonefritis kronika sudah menderita pen3 beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, pada pemeriksaan kehamilan pertat dijumpai proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi. T)iagnosi dibuat bila d:jumpai proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi. gejala-gejala penyakit baru timbul dalam kehamilan yang sudah lanjut, atau c dengan pengaruh kehamilan (superimposed pre-eklampsia), maka lebih su, membedakannya dari pre-eklampsia murni.
Suatu ciri tetap ialah makin memburuknya fungsi ginjal karena makin Ian banyak kerusakan yang diderita oleh glomerulus-glomerulus ginjal, bahkaj tercapai tingkat akhir, yakni apa yang disebut ginjal kisut. Penyakit ini menampakkan diri dalam 4 macam: (1) hanya terdapat proteinuria menetapatau tanpa kelainan sedimen; (2) dapat menjadi jelas sebagai sindroma nefrotik dalam bentuk mendadak seperti pada glomerulonefritis. akuta; dan (4) gagal ginjal sebagai penjelmaan pertama. Keempat-empatnya dapat menimbulkan gejala insufisiensi ginjal dan penyakit kardiovaskuler hipertensif.
Pengobatan tidak memberi hasil yang memuaskan karena penyakitnya bertambah berat. Peningkatan penyakit, tensi yang sangat tinggi, dan tambahan dengan pielonefritis akuta harus ditanggulangi dengan seksama. Dalam hal- ha1 terakhir pengakhiran kehamilan perlu dipertimbangkan. Sebaiknya penderita glomerulonefri¬tis kronika tidak menjadi hamil. Karena kerusakan ginjal berbeda-beda pada waktu penderita ditemukan hamil, maka sulit untuk menafsirkan pengaruh kehamilan pada jalan penyakit. Yang tanpa kehamilan juga makin lama makin menjadi lebih buruk. Agaknya kehamilan tidak mempercepat proses kerusakan ginjal, walaupun sebalik¬nya dapat pula terjadi.
Prognosis bagi ibu akhiarnya buruk: ada yang segera meninggal, ada yang agak lama. Hal itu tergantung dari luasraya kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidak adanya faktor-faktor yang mempercepat proses penyakit.
Prognosis bagi janin dalam kasus tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat hipertensi. Wanita dengan fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat melanjutkan kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat insufisiensi plasenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tckanan darah yang sangat ti.nggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan isartus prematurus, atau janin mati dalam kandungan.

6. Sindroma Nefrotik
Sindroma nefrotik, yang dahulu dikenal dengan nama nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas edema, proteinuria (lebih dari 5 gram sehari), hipoalbumine¬mia, dan hiperkolesterolemia. Mungkin sindroma ini diakibatkan oleh reaksi antigen¬antibodi dalam pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus. Penyakit-penyakit yang dapat menyertai sindroma nefrotik ialah glomerulo-nefritis kronika (paling sering), lupus eritematosus, diabetes mellitus, amiloidosis, sifilis dan trombosis vena renalis. Selain itu sindroma ini dapat pula timbul akibat keracunan logam berat (timah, air raksa), obat-obat anti kejang, serta racun serangga.
Apabila kehamilan disertai sindroma nefrotik, maka pengobatan serta prognosis ibu dan anak tergantung pada faktor penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.
Sedapat mungkin faktor penyebabnya harus dicari; jikalau perlu, dengan biopsi ginjal. Penderita harus diobati dengan seksama, atau pemakaian obat-obat yang menjadi sebab harus dihentikan. Penderita diberi diet tinggi-protein. Infeksi sedapat¬dapatnya dicegah dan yang sudah ada harus diberantas dengan antibiotika. Tromboembolismus dapat timbul dalam nifas. Siberman dan Adam menganjurkan pengobatan antibeku (heparin) dalam nifas pada wanita dengan sindroma nefrotik. Dapat pula diberi obat-obat kortikosteroid dalam dosis tinggi.

Gagal Ginjal Mendadak Dalam Kehamilan
Gagal ginjal mendadak (acute renal failure) merupakan komplikasi yang san€ dalam kehamilan dan nifas, karena dapat men' mbulkan kematian, atau k fungsi ginjal yang tidak bisa sembuh lagi. Kejadiannya 1 dalam 13 kehamilan.
Kelainan ini didasari oleh dua jenis patologi.
1. Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan
2. Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal yang menderita

Penderita yang mengalami sakit gagal ginjal mendadak ini sering dijum kehamilan muda 12-18 minggu, dan kehamilan telah cukup bulan. Pada k, muda, sering disebabkan oleh abortus -septik yang disebabkan oleh Chlostridia welchii atau streptokokkus. Gambaran klinik yaitu berupa sel adanya tanda-tanda oliguria mendadak dan azothemia serta pembekua intravaskuler (DIC = disseminated intravascular coagulation), sehingg nekrosis tubular yang akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila k tubulus tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari. Seringkali dilakukan histerektomi untuk mengatasinya, akan tetapi ada peneliti yang menganjurkan perlu melakukan operasi histerektomi tersebut asal pada penderita.
Penderita dapat meninggal dalam waktu 7-14 hari setelah timbulnya Kerusakan jaringan dapat terjadi di beberapa tempat yang tersebar atau ke jaringan ginjal.
Gagal ginjal dalam kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:
1) penanganan kehamilan dan persalinan dengan baik;
2) perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan bail
3) pemberian transfusi darah dengan hati-hati.

Batu ginjal dan Saluran Kemih (Urolitiasis)
Batu saluran kcmih dalam kehamilan tidaklah biasa. Frekuenyinya sanmpai (0,03---0,07%). Walaupun demikian perlu juga diperhatikan karena urulitiasis mendorong timbulnya infeksi saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita berupa nyeri mendadak, kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat penyakit penderita sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu membuat diagnosis urolitiasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan perneriksaan intravenus pielografi; akdst cetapi janin harus diIindungi dari efek penyinaran. Dewasa ini dapat pula dengan USG (ultrasonografi) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir 80% batu akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tinclakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atau setelah partum.


1. Ginjal Polikistik
Ginjal polikistik merupakan kelainan bawaan (herediter). Kehamilan umumnya tidak empengaruhi perkembangan pembentukan kista pada ginjal, begitu pula sebalik¬ya. Akan tetapi bila fungsi ginjal kurang baik, maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya. Sebaliknya wanita yang telah mempunyai kelainan sebaiknya tidak hamil karena kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan selalu tinggi.

2. Tuberkolosis Ginjal
Jarang dijumpai wanita hamil dengan tuberkulosis ginjal, walaupun dalam literatur disebutkan ada. Kehamilan akan mempengaruhi TBC ginjal tersebut bila tidak diobati. TBC pada ginjal dapat hamil terus, asal fungsi ginjalnya baik. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organ-organ lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus.

READ MORE - Penyakit-penyakit dalam kehamilan

Arsip Blog

tes