Tingkat Kejadian dan Faktor yang Mempengaruhi terjadinya Stomatitis pada Penderita Tunanetra

KTI SKRIPSI
Tingkat Kejadian dan Faktor yang Mempengaruhi terjadinya Stomatitis pada Penderita Tunanetra

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Tunanetra adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indera penglihatan. Di Indonesia, kaum tunanetra secara stereotip digambarkan sebagai seseorang yang tidak berdaya, tidak mandiri, dan menyedihkan. Sehingga terbentuk pandangan dikalangan  masyarakat bahwa para kaum tunanetra itu patut dikasihani, selalu membutuhkan perlindungan dan bantuan.
Selama ini sikap dan pandangan masyarakat yang negatif itu menyebabkan para remaja tunanetra kurang percaya diri, menjadi rendah diri, minder dan merasa tidak berguna. Hal ini akan berakibat pada aktualisasi dan pengembangan potensi kepribadian menjadi terhambat, sehingga remaja tunanetra menjadi pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan khawatir dalam menyampaikan gagasan, ragu-ragu dalam menentukan pilihan dan memiliki sedikit keinginan untuk bersaing dengan orang lain.
Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, mempunyai tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi, baik kebutuhan fisik, psikis, maupun sosial. Tuntutan kebutuhan membuat seseorang aktif dan terus aktif sampai situasi seseorang dan lingkungan diubah untuk meredakan kebutuhan tersebut. Beberapa tuntutan kebutuhan disertai dengan emosi atau perasaan tertentu dan seringkali disertai dengan perilaku/tindakan instrumental tertentu yang efektif untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan.
Seseorang yang mempunyai kecacatan biasanya disebut dengan kondisi luar biasa. Pada umumnya, yang termasuk dalam kondisi luar biasa adalah seseorang atau individu yang mengalami cacat baik jasmani maupun rohani, berupa kelainan fisik, mental, ataupun sosial, sehingga mengalami hambatan dalam mencapai tujuan atau kebutuhan dalam hidupnya.
Seorang tunanetra, dalam kondisinya yang khusus atau luar biasa dengan berbagai kesulitannya, sering menghadapi berbagai masalah karena hambatan dalam fungsi penglihatannya.
Dengan gambaran kondisi seperti diatas, maka sudah dapat dilihat bagaimana sulitnya penderita tunanetra membangun semangat dan pola hidupnya. Termasuk dalam pola hidup kesehatan penderita tunanetra itu sendiri, terkhusus dalam kesehatan gigi dan mulutnya.
Dalam kaitannya dengan stomatitis, dengan memperhatikan faktor penyebab terjadinya stomatitis, maka penderita tunanetra seharusnya memperoleh perhatian yang lebih lagi. Mengingat pola hidup dan lingkungan penyandang tunanetra yang sangat mendukung terjadinya stomatitis.
Stomatitis itu sendiri adalah lesi yang timbul di rongga mulut yang disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh yang dapat dipicu oleh beberapa faktor antara lain akibat defisiensi nutrisi, kebiasaan hidup yang kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut, akibat kebiasaan buruk (badhabbit), sehingga virus dan bakteri mudah menyerang jaringan lunak rongga mulut. Penyakit ini sangat mengganggu dengan rasa sakit dan seperti terbakar, membuat penderitanya susah makan dan susah minum.
Stomatitis dapat menyerang siapa saja, tidak mengenal umur maupun jenis kelamin. Biasanya daerah bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit-langit.

I.2 Dasar Pemikiran
Dengan memperhatikan faktor penyebab terjadinya stomatitis berupa defisiensi nutrisi, kebiasaan hidup yang kurang memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, kebiasaan buruk (badhabbit), trauma, infeksi, dan penyakit sistemik, maka penulis ingin mengetahui dan membuktikan apa sebenarnya yang menjadi penyebab paling dominan terjadinya stomatitis pada penderita tunanetra.

I.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui tingkat kejadian dan faktor yang mempengaruhi terjadinya stomatitis pada penderita tunanetra.
silahkan download KTI SKRIPSI
Tingkat Kejadian dan Faktor yang Mempengaruhi terjadinya Stomatitis pada Penderita Tunanetra
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Tingkat Kejadian dan Faktor yang Mempengaruhi terjadinya Stomatitis pada Penderita Tunanetra

Tindakan Keluarga dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia

KTI SKRIPSI
Tindakan Keluarga dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia

ABSTRAK
Di ditemukan penduduk yang berusia diatas 60 tahun ke atas berjumlah 631.604, sedangkan didaerah ditemukan penduduk Lansia diatas 60 tahun keatas yaitu berjumlah 61.108. Sedangkan hasil survey yang dilakukan peneliti di Desa Kecamatan Kabupaten dijumpai 55 orang lansia. Lansia beresiko tinggi terhadap osteoporosis. Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui tindakan keluarga dalam pencegahan osteoporosis pada lansia berdasarkan persepsi, respon terpimpin, mekanisme dan adaptasi. Osteoporosis adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa berkurangnya kepadatan masa tulang yang berakibat meningkatnya resiko patah tulang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner dengan jumlah populasi 55 responden. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tindakan berdasarkan persepsi baik berjumlah 34 responden (61,8%), cukup berjumlah 16 responden (29,1%), kurang berjumlah 5 responden (9,1). Tindakan berdasarkan respon terpimpin baik berjumlah 42 responden (76,4%), cukup berjumlah 8 responden (14,5%), kurang berjumlah 5 responden (9,1%). Tindakan berdasarkan mekanisme baik berjumlah 25 responden (45,4%), cukup berjumlah 21 responden (38,2%), kurang berjumlah 9 responden (16,4%). Sedangkan yang melakukan tindakan berdasarkan adaptasi baik berjumlah 43 responden (78,2%), cukup berjumlah 8 responden (14,5%), kurang berjumlah 4 responden (2,3%). Dengan demikian diharapkan bagi keluarga agar lebih memperhatikan kesehatan keluarga khususnya lansia dengan tindakan osteoporosis yang tepat.
Kata Kunci    : Tindakan+Keluarga+Pencegahan+Osteoporosis + Lansia

BAB  I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Penuaan sering diikuti dengan penurunan kualitas hidup sehingga status lansia dalam kondisi sehat atau sakit. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan, penurunan berbagai kemampuan organ, fungsi dan sistem tubuh ada umumnya tanda proses menua mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan menimbulkan masalah pada usia sekitar 60 tahun.
Menurut WHO, pada tahun 2009 osteoporosis menduduki peringkat kedua dibawah penyakit jantung sebagai masalah kesehatan utama dunia. Menurut data Internasional Osteoporosis Foundation lebih dari 30% wanita diseluruh dunia mengalami resiko seumur hidup untuk patah tulang akibat osteoporosis, bahkan mendekati 40%, sedangkan pada pria, resikonya berada pada angka 13%.
Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2009, dampak osteoporosis di Indonesia sudah dalam tingkat yang harus diwaspadai, yaitu mencapai 19,7% dari populasi.
Penyebab osteoporosis dipengaruhi oleh berbagai faktor dan pada individu bersifat multifaktoral seperti gaya hidup tidak sehat, kurang gerak, tidak berolahraga serta pengetahuan mencegah osteoporosis yang kurang akibat kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari mulai anak-anak sampai dewasa, serta kurangnya asupan kalsium. Maka kepadatan tulang menjadi rendah sampai terjadinya osteoporosis.
Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada orang tua juga dapat menyebabkan osteoporosis. Kekurangan magnesium juga dinyatakan sebagai salah satu penyebab osteoporosis. Magnesium terlibat dalam  300 lebih fungsi tubuh, selain untuk membantu metabolisme kalsium dan vitamin D, magnesium juga berperan langsung dalam mencegah pengeroposan tulang.
Persoalan osteoporosis pada lansia erat hubungannya dengan kemunduran produksi beberapa hormon pengendali remodeling tulang, seperti kalsitonim dan hormon seks. Dengan bertambahnya usia, hanya produksi beberapa hormon tersebut akan merosot, hanya saja penurunan produksi beberapa osteoblast, sehingga memungkinkan terjadinya pembentukan tulang, akan mengendur aktivitasnya setelah seseorang menginjak usia ke 50 disusul tahun terakhir adalah testosteron pada kurun waktu usia 45-53 tahun.
Jika dihitung secara kasar maka dengan pertambahan usia harapan hidup pada  tahun 2000 diperkirakan ada sekitar 14,7% dari 15,5 juta lansia yang beresiko patah tulang osteoporosis dengn perkiraan biaya sekitar US$ 2,7 miliar, sehingga pada tahun 2015 diperkirakan jumlah lansia 24 juta dengan resiko patah tulang osteoporosis sebanyak 352.850 dengan estimasi biaya US$ 3,2 miliar.
Menurut data statistik pada tahun diperkirakan jumlah penduduk lansia diatas 60 tahun ke atas di Sumatera Utara yang dalam keadaan kesehatan baik sebanyak 242.99, yang dalam keadaan kesehatan cukup sebanyak 215.787 dan dalam keadaan kesehatan yang kurang sebanyak 172.818. Jadi jumlah penduduk lansia yang diatas 60 tahun adalah 631.604, sedangkan jumlah penduduk lansia diatas 60 tahun keatas di yang dalam keadaan baik sebanyak 21.703 dan dalam keadaan cukup sebanyak 19.222, sedangkan yang dalam keadaan kesehatan kurang sebanyak 20.183. Jadi jumlah total keseluruhan penduduk lansia yang 60 tahun keatas adalah 61.108. (http://www.datastatistik – Indonesia.com).
Berdasarkan survey yang dilakukan di Desa dijumpai 55 orang lansia. Maka disinilah peneliti tertarik untuk meneliti “Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia di Desa Kec. Tahun ”.

1.2    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adapun yang menjadi perumusan masalah peneliti adalah “Bagaimana Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia di Desa Kec. Kab. Tahun ”.

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Untuk mengetahui “Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia di Desa Kec. Kab. Tahun ”.
1.3.2    Tujuan Khusus
1.    Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan persepsi.
2.    Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan respon terpimpin.
3.    Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan mekanisme.
4.    Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan adaptasi.

1.4    Manfaat Penelitian
1.    Menambah pengetahuan / wawasan bagi penulis tentang osteoporosis.
2.    Bagi keluarga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi keluarga dalam rangka mengevaluasi pengetahuan mereka dalam meningkatkan upaya-upaya untuk mengetahui pencegahan osteoporosis.
3.    Dari data yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya dibidang kesehatan, khususnya osteoporosis pada lansia.
4.    Bagi institusi sebagai referensi / bacaan di perpustakaan Akademi.
silahkan download KTI SKRIPSI
Tindakan Keluarga dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Tindakan Keluarga dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia

Studi Cross Sectional Penyakit ISPA pada Balita BGM

KTI SKRIPSI
Studi Cross Sectional Penyakit ISPA pada Balita BGM

BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional melalui pembangunan kesehatan yang ingin dicapai untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal.2
Masukan gizi telah terbukti merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh dalam pembangunan dan pembentukan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas hidup masyarakat akan berhasil dengan baik apabila dilakukan sedini mungkin, yaitu dengan memberikan perhatian kepada gizi balita.2
Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah yang cukup berat. Pada hakekatnya berpangkal pada keadaan ekonomi yang kurang dan kurangnya pengetahuan tentang nilai gizi dari makanan-makanan yang ada. Makanan yang sehat harus memenuhi syarat kualitas maupun kuantitas, disamping jangan mengandung zat-zat/organisme-organisme yang dapat menimbulkan penyakit. Masalah gizi juga timbul karena perilaku gizi seseorang yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dan kecukupan gizinya. Bila konsumsi selalu kurang dari kecukupan gizinya, maka seseorang menderita gizi kurang. Sebaliknya, jika konsumsi melebihi kecukupan gizinya maka yang bersangkutan akan menderita gizi lebih. Jumlah kebutuhan makanan tidaklah sama pada setiap orang. Hal ini tergantung pada umur, jenis kelamin, tinggi dan berat badan, jenis pekerjaan dan keadaan kesehatan orang itu sendiri.3
Anak usia dibawah lima tahun merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi, dan jumlahnya dalam populasi besar.3
    Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan makanannya dan meninggikan kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi walaupun ringan berpengaruh negatif terhadap daya tahan tubuh terhadap infeksi. Kedua-duanya bekerja sinergistik maka malnutrisi bersama-sama dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi secara sendiri-sendiri. Akibat gizi kurang sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat membawa kematian.4,5
    Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini tampak dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 yang menunjukkan bahwa proporsi kematian bayi akibat ISPA masih 29,5 %. Artinya dari 100 bayi yang meninggal 30 di antaranya meninggal karena ISPA.2
    Berdasarkan data profil kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan, prevalensi total di propinsi Kalimantan Selatan pada tahun 1999 sebesar 17,48 % dan pada tahun 2000 turun menjadi 10,43 %, pada tahun 2001 terjadi peningkatan prevalensi gizi kurang pada balita total menjadi 12,5 %. Penemuan jumlah kasus bayi, batita dan balita di bawah garis merah (BGM) melalui program penimbangan bulanan tahun 2002 oleh Dinas Kota Banjarmasin berjumlah 5326 balita. Dari data rekapitulasi hasil penimbangan balita di Puskesmas periode Januari sampai Maret , ditemukan kasus BGM (kasus baru dan lama) 6 orang bayi, 31 orang batita dan 20 orang balita. Di Puskesmas pada tahun penyakit ISPA menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak. Jumlahnya mencapai 2376 balita. Pada periode bulan Januari sampai Juni tahun sebanyak 1090 balita.
Berdasarkan data tersebut, jumlah balita BGM dan penderita ISPA pada balita di puskesmas cukup tinggi. Namun belum diketahui apakah balita BGM yang ada tersebut berhubungan dengan penyakit ISPA. Dengan demikian penelitian ini dilakukan guna membuktikan adanya hubungan balita BGM dengan penyakit ISPA serta membuktikan apakah balita BGM merupakan faktor risiko penyakit ISPA pada balita di Puskesmas bulan Juni .
  
1.3     Rumusan Penelitian
Apakah terdapat hubungan antara balita BGM dengan penyakit ISPA dan apakah BGM itu merupakan faktor risiko penyakit ISPA pada balita di Puskesmas bulan Juni .

1.4     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antara balita BGM  dengan penyakit ISPA dan untuk membuktikan apakah balita BGM benar-benar merupakan faktor risiko terhadap terjadinya penyakit ISPA di Puskesmas bulan Juni .

1.5    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan atau informasi kepada masyarakat tentang hubungan antara balita BGM dengan penyakit ISPA, dan bahwa balita BGM merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit ISPA. Diharapkan pula dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan umumnya dan ilmu gizi pada khususnya, serta dapat menjadi data ilmiah bagi penelitian selanjutnya.
silahkan download KTI SKRIPSI
Studi Cross Sectional Penyakit ISPA pada Balita BGM
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Studi Cross Sectional Penyakit ISPA pada Balita BGM

Profil Kecacingan, Kadar Hemoglobin dan Gambaran Pemeriksaan Apusan Darah Tepi Perajin Gerabah

KTI SKRIPSI
Profil Kecacingan, Kadar Hemoglobin dan Gambaran Pemeriksaan Apusan Darah Tepi Perajin Gerabah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang Permasalahan
Masalah kesehatan penduduk di Indonesia masih ditandai dengan tingginya penyakit–penyakit yang berkaitan dengan rendahnya tingkat sosial ekonomi penduduk. Salah satu penyakit yang insidennya masih tinggi adalah infeksi cacing. Di Indonesia kecacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat terbanyak setelah malnutrisi, karena Indonesia adalah negara yang agraris dengan tingkat sosial ekonomi, pengetahuan, keadaan sanitasi lingkungan dan higiene masyarakat masih rendah yang sangat menyokong untuk terjadinya infeksi dan penularan cacing (Ginting, 2003).
Saat ini lebih dari 2 milyar penduduk di dunia terinfeksi cacing. Prevalensi yang tinggi ditemukan terutama di negara-negara non industri (negara yang sedang berkembang).  Merid mengatakan bahwa menurut World Health Organization (WHO) diperkirakan 800 juta–1 milyar penduduk terinfeksi Ascaris, 700–900 juta terinfeksi cacing tambang, 500 juta terinfeksi trichuris (Merid, 2001 at in Ginting, 2003).
Tinggi rendahnya frekuensi kecacingan berhubungan erat dengan kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan yang menjadi sumber infeksi. Diantara cacing usus yang menjadi masalah kesehatan adalah kelompok “soil transmitted helminth” atau cacing yang ditularkan melalui tanah, seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Ancylostoma sp (cacing tambang). Pencemaran tanah merupakan penyebab terjadinya transmisi telur cacing dari tanah kepada manusia melalui tangan atau kuku yang mengandung telur cacing, lalu masuk ke mulut bersama makanan. Di Indonesia prevalensi kecacingan masih tinggi antara 60% – 90 % tergantung pada lokasi dan sanitasi lingkungan (Mardiana dan Djarismawati,2008)
Penyakit kecacingan seringkali dihubungkan dengan kejadian anemia, terutama anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi dipengaruhi juga oleh konsekwensi dari infeksi kecacingan dengan hilangnya darah secara kronis. Penyakit kecacingan dan anemia defisiensi besi merupakan masalah yang saling terkait dan dijumpai bersamaan dalam suatu masyarakat, yaitu karena rendahnya sosial ekonomi masyarakat dan sanitasi lingkungan yang sangat tidak memadai sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi terutama kecacingan (Rasmaliah, 2004)
Hubungan antara infeksi kecacingan dan anemia defisiensi besi sudah banyak terungkap dari berbagai penelitian yang telah dilakukan. Masing-masing saling memberikan kontribusi terhadap terjadinya kesakitan, walaupun besarnya kontribusi dari infeksi kecacingan terhadap anemia defisiensi besi masih belum banyak dibuktikan (Rasmaliah, 2004)
Di Nusa Teggara Barat pernah dilakukan sebuah penelitian mengenai prevalensi kecacingan terhadap perajin gerabah di Desa Penelitian yang disponsori empat lembaga, yaitu Dinas Kesehatan NTB, Ford Foundation, Pusat Informasi Kesehatan dan Perlindungan Keluarga (PIKPK) dan Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Mataram ini membuktikan bahwa 100 persen perajin gerabah yang menjadi sampel penelitian positif menderita kecacingan. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 400 perajin gerabah. Dari jumlah itu, terdapat 392 perempuan dan sisanya adalah pria. Setelah dilakukan pemeriksaan feses dan gejala klinis penyakit, ternyata 100 persen dari subyek penelitian mengidap penyakit cacingan. Jenis cacing yang ditemukan, seperti cacing gelang (Ascaris lumbriscoides) sebanyak 52 persen, cacing cambuk dan cacing kremi sebanyak 48 persen. Penyebabnya karena tiap hari bersentuhan dengan tanah dan pola hidup yang jauh dari standar sehat. Sedangkan gejala klinis yang diderita para perajin gerabah, terutama yang perempuan, biasanya mengalami keluhan seperti keputihan, pegal-pegal, linu, dan cepat merasa capek (Sujatmiko, 2005).
Status anemia seseorang dapat diketahui dengan melakukan berbagai jenis pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan kadar hemoglobin, kadar Fe serum, pemeriksaan apusan darah tepi dan lain-lain. Pemeriksaan darah tepi adalah salah satu metode yang cukup mudah dilakukan dan melalui pemeriksaan ini kita dapat melihat gambaran anemia seseorang berdasarkan morfologinya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk memperkirakan etiologi dari anemia tersebut.
Karena belum ada penelitian yang menyoroti tentang kecacingan disertai dengan gambaran anemia pada masyarakat khususnya terhadap perajin gerabah di Nusa Tenggara Barat, maka data tentang prevalensi kecacingan pada masyarakat resiko tinggi ini sangat diperlukan.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Profil Kecacingan, Kadar Hemoglobin dan Gambaran Pemeriksaan Apusan Darah Tepi Perajin Gerabah di Dusun    ”

1.2.  Rumusan Masalah
Bagaimanakah profil kecacingan, kadar hemoglobin dan gambaran pemeriksaan apusan darah tepi pada perajin gerabah di    ?

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1.     Tujuan Umum
Untuk mengetahui profil kecacingan, kadar hemoglobin dan gambaran pemeriksaan apusan darah tepi pada perajin gerabah di  
1.3.2.     Tujuan Khusus
1)    Mengetahui data tentang angka kejadian infeksi kecacingan pada masyarakat yang bermata pencaharian sebagai perajian gerabah di Dusun
2)    Mengetahui data mengenai gambaran anemia pada pemeriksaan apusan darah tepi pada sampel yang positif mengalami cacingan dan memiliki nilai kadar hemoglobin yang rendah.

1.4     Manfaat Hasil Penelitian
1.4.1     Puskesmas
Sebagai tambahan informasi dan bahan masukan dalam usaha pencegahan dan cara pengobatan dari permasalahan kesehatan yang terjadi yang berhubungan dengan penyakit cacingan dan anemia.
1.4.2     Masyarakat
Menambah pengetahuan dalam usaha pencegahan maupun pengobatan serta melaksanakan berbagai program pemberantasan penyakit cacingan terutama pada masyarakat dengan resiko tinggi.
1.4.3 Peneliti
Sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian dan dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh.
silahkan download KTI SKRIPSI
Profil Kecacingan, Kadar Hemoglobin dan Gambaran Pemeriksaan Apusan Darah Tepi Perajin Gerabah
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Profil Kecacingan, Kadar Hemoglobin dan Gambaran Pemeriksaan Apusan Darah Tepi Perajin Gerabah

Perilaku Ibu yang Memiliki Anak Usia SD dalam Mencegah Penyakit Kecacingan pada Anak

KTI SKRIPSI
Perilaku Ibu yang Memiliki Anak Usia SD dalam Mencegah Penyakit Kecacingan pada Anak

Abstrak
Penyakit kecacingan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dari penelitian Rehulina (2007) didapatkan prevalensi penyakit kecacingan sebesar (60-7%) pada anak usia SD. Kelompok umur yang paling rentan akan penularan penyakit kecacingan adalah anak usia SD. Ibu memegang peranan penting dalam kehidupan seorang anak dalam menjaga kesehatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tentang perilaku ibu yang dinilai dari pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu yang memiliki anak usia SD terhadap pencegahan penyakit kecacingan pada anak. Desin penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan perilaku ibu di Kelurahan , dengan populasi ibu yang memiliki anak usia sekolah dasar. Pengambilan sampel dilakukan pada dengan tehnik purposive sampling pada bulan Oktober-November 2009. Penyebaran koesioner dilakukan pada 173 ibu yang menjadi responden dalam penelitian sesuai dengan 'criteria yang telah ditetapkan peneliti. Hasil penelitian di Kelurahan Kecamatan menunjukkan bahwa perilaku ibu yang baik yaitu (74,6%), yang dinilai dan pengetahuan yang baik (82,1%), sikap yang baik (76,3%) dan tindakan yang baik (56,1%), Karakteristik responden yang meliputi pendidikan responden kebanyaka SMA (53,2%), pekerjaan responden sebagian besar ibu rumah tangga (53,2%) responden tidak pernah mendapat informasi dari petugas kesehatan atau puskesmas tetapi responden mendapatkan informasi yang baik, dan informasi yang paling berkesan dari televise atau surat kabar, yang dapat mempengaruhi perilaku baik pada ibu yang ada di Kelurahan Kecamatan
Kata kunci: Perilaku, ibu yang memiliki anak SD mencegah penyakit kecacingan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia pada saat ini sedang giat membangun segala bidang. Salah satu tujuan pembangunan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Manusia adalah kunci sumber daya kesuksesan suatu pembangunan, sehingga berhasilnya suatu pembangunan dijalankan tergantung dari kualitas SDM tersebut. Banyaknya kendala yang menghambat mutu SDM di Indonesia antara lain status sosial ekonomi, penyakit kronis, kurang gizi, gangguan dalam belajar, lingkungan sekolah. Masalah kesehatan penduduk di Indonesia masih ditandai dengan tingginya penyakit yang berkaitan dengan rendahnya tingkat sosial ekonomi penduduk. Salah satu penyakit yang insidennya masih tinggi adalah infeksi kecacingan (Rehulina, 2005).
Di dunia pada tahun 2001, lebih dari 2 miliar penduduk terinfeksi kecacingan. Prevalensi yang tinggi ditemukan di negara-negara non industri (negara-negara yang sedang berkembang). Merid (2007) mengatakan bahwa menurut World Health Organization (WHO) diperkiran 800 juta-lmiliar penduduk terinfeksi cacing gelang, 700¬900 juta terinfeksi cacing tambang, 500 juta terinfeksi cacing cambuk. Menurut laporan pembangunan Bank Dunia, dinegara berkembang diperkirakan diantara anak perempuan usia 5-14 tahun, penyakit kecacingan diperkirakan (12%) dari beban kesakitan total sementara anak laki-laki (11%). Karena itu kecacingan merupakan penyumbang total terbesar beban kesakitan pada kelompok usia tersebut (Alemina, 2007).
Di Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari semua kasus penyakit kecacingan, cacing gelang (ascaris lumbricoides) sekitar (25¬35%) dan cacing cambuk (trichuris trichiura) sekitar (65-75%). Prevalensi tertinggi ditemukan pada anak usia sekolah dasar. Resiko tinggi adalah pada kelompok anak yang mempunyai kebiasaan defekasi disaluran air terbuka dan sekitar rumah, makan tanpa mencuci tangan dan bermain ditanah yang tercemar telur cacing tidak memakai alas kaki (Rehulina, 2005).
Di  khususnya kota ....... prevalensi kecacingan pada anak sekitar (60-70%) dan semua kasus. Penyakit kecacingan sangat berkaitan dengan masalah lingkungan. Beberapa faktor yang mempengaruhi hidup sehat tanpa penyakit kecacingan, diantaranya faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor keturunan dan faktor pelayanan kesehatan. Penyakit kecacingan selalu berhubungan dengan kemiskinan yaitu berupa penghasilan yang sangat rendah. Keadaan ini yang menyebabkan kebutuhan sandang, pangan dengan kualitas dan kuantitas makanan yang rendah, sanitasi lingkungan yang jelek dan sumber air bersih yang kurang serta pelayanan keshatan yang terbatas (Kompas, 2009).
Kecacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorpsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif infeksi kecacingan dapat menimbulkan kurangan gizi berupa kalori dan protein, serta kehilangan darah yang berakibat menurunnya daya tahan tubuh dan menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak. Khusus anak usia sekolah, keadaan ini akan berakibat buruk pada pada kemampuannya dalam mengikuti pelajaran di sekolah (Depkes, 2005)
Didalam usaha pencegahan dan pengobatan penyakit kecacingan, ibu yang paling berperan untuk menjaga dan melindungi anak dari berbagai bahaya yang mengancam anak tersebut. Disamping itu pemerintah dan masyarakat telah melaksanakan berbagai perogram pemberantasan penyakit kecacingan, terutama di sekolah dan posyandu di kota ........ Kegiatan tersebut meliputi pemberian obat cacing, program cuci tangan sebelum dan sesudah makan, penyuluhan kepada murid, guru dan orang tua murid mengenai penyakit kecacingan yang bisa ditularkan melalui tanah, termasuk penyebab, pencegahan, penanggulangan dan pengobatan secara selektif. Selain itu juga dilakukan upaya edukatif penunjang berupa lomba kebersihan antara sekolah, lomba menggambar, dan mengarang dari murid peserta program (Depkes, 2009). Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa memperhatikan keempat faktor tersebut serta memberdayakan murid, guru, orang tua murid dan masyarakat dapat menurunkan angka kejadian penyakit kecacingan dan menunjukkan keberhasilan program yang mencegah penyakit kecacingan dengan baik (kompas, 2009)
Dari hasil observasi awal di Kelurahan Kecamatan peneliti menemukan tingginya jumlah ibu yang memiliki anak usia sekolah dasar di kelurahan ini yaitu sebanyak 866 orang. Didapat data dari 20 orang ibu yang memiliki anak usia SD, peneliti mewawancarai 5 orang ibu yang memiliki anak usia SD setiap lingkungan dari empat lingkungan, diperoleh hasil (70%) tidak mengetahui bagaimana cara pencegahan penyakit kecacingan pada anak usia SD dan (30%) mengetahui bagaimana cara pencegahan penyakit kecacingan pada anak usia SD, dan hasil observasi di empat linkungan tersebut masih banyak keluarga yang lc-Luang mampu, anak usia SD yang bermain di depan rumah tidak memakai alas kaki (sandal) dan daerah Kelurahan merupakan daerah yang rawan banjir.
Dari uraian di atas peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai perilaku ibu  yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .

1.2 Tujuan Penelitian
1.2.1 Tujuan Umum
mengetahui perilaku ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
1.2.2 Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pengetahuan ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
b.    Untuk mengetahui sikap ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
c.    Untuk mengetahui tindakan ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .


1.3 Pertanyaan Penelitian
1.3.1 Bagaimana perilaku Ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
1.3.2 Bagaimana pengetahuan Ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
1.3.3 Bagaimana sikap Ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
1.3.4 Bagaimana tindakan Ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .

1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1.     Bagi praktek keperawatan (Puskesmas)
Sebagai informasi tambahan bagi praktek keperawatan untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan pada anak di Kelurahan Kecamatan , sehingga perawat memberdayakan ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak.
1.4.2     Bagi Orang tua atau masyarakat
Meningkatkan motivasi untuk ibu yang memiliki anak usia SD dalam mencegah penyakit kecacingan pada anak di Kelurahan Kecamatan .
1.4.3.     Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menambah informasi dan data tambahan bagi peneliti selanjutnya tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit kecacingan.
silahkan download KTI SKRIPSI
Perilaku Ibu yang Memiliki Anak Usia SD dalam Mencegah Penyakit Kecacingan pada Anak
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Perilaku Ibu yang Memiliki Anak Usia SD dalam Mencegah Penyakit Kecacingan pada Anak

Perbedaan Antara Frekuensi Diare pada Bayi Berusia 7-12 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif dengan yang tidak Mendapat ASI Eksklusif

KTI SKRIPSI
Perbedaan Antara Frekuensi Diare pada Bayi Berusia 7-12 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif dengan yang tidak Mendapat ASI Eksklusif

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit diare merupakan penyakit kedua terbanyak di seluruh dunia setelah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Penyakit ini diperkirakan ditemukan 1 milyar kasus per tahun dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak-anak di Asia, Afrika, dan Amerika Latin (Abdullah, 2006).
Penyakit diare di Indonesia sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit endemis dan masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di masyarakat oleh karena seringnya terjadi peningkatan kasus-kasus pada saat atau musim-musim tertentu yaitu pada musim kemarau dan pada puncak musim hujan. Penyakit diare masih termasuk dalam 10 penyakit terbesar di Indonesia tahun 1999 sebesar 5 per 1000 penduduk dan menduduki urutan kelima dan 10 penyakit terbesar (Depkes RI, 2005b).
Hasil survei Program Pemberantasan (P2) Diare di Indonesia menyebutkan bahwa angka kesakitan diare di Indonesia pada tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk dengan episode diare balita adalah 1,0 – 1,5 kali per tahun. Tahun 2003 angka kesakitan penyakit ini meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kedua tertinggi setelah DBD. Survei Departemen Kesehatan pada tahun 2003, penyakit diare menjadi penyebab kematian nomor dua pada balita, nomor tiga pada bayi, dan nomor lima pada semua umur. Kejadian diare pada golongan balita secara proporsional lebih banyak dibandingkan kejadian diare pada seluruh golongan umur yakni sebesar 55% (Depkes RI, 2005b).
Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya. Upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan yang utama adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung program Peningkatan Pemberian ASI, gencarnya promosi susu formula, dan ibu bekerja (Depkes RI, 2005a).
Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%, pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13% (Depkes RI, 2005a).
ASI, selain mengandung gizi yang cukup lengkap, mengandung imun untuk kekebalan tubuh bayi. Keunggulan lainnya, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara dini pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi. Pada akhirnya, bayi sulit buang air besar. Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi pun rawan diare. Kandungan gizinya pun tidak sama dengan kandungan gizi pada ASI (Arianto, 2008).
Kejadian diare pada balita dapat saja terjadi karena ketidaktahuan ibu mengenai tata cara pemberian ASI kepada anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap ibu untuk tidak menyusui bayi mereka, padahal makanan pengganti yang bergizi tinggi, jauh dari jangkauan ekonomi mereka. Pengaruh buruk itu kian hari kian jauh menjalar ke pedesaan, dan dapat dibuktikan dengan berkurangnya jumlah ibu yang menyusui bayi mereka dari tahun ke tahun. Keadaan ini juga membawa pengaruh buruk terhadap kejadian diare pada anak (Arianto, 2008).
Kecamatan mempunyai angka kejadian diare yang cukup tinggi untuk kota (BPS, 2007). Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang diare di kecamatan tersebut.


1.2 Perumusan Masalah
    Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah “apakah ada  perbedaan antara frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapat ASI eksklusif dengan yang tidak mendapat ASI eksklusif.”

1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya perbedaan frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif dengan yang tidak mendapat ASI eksklusif.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.    Mengetahui gambaran riwayat pemberian ASI eksklusif pada bayi berusia 7-12 bulan di Puskesmas , tahun .
2.    Untuk mengetahui gambaran frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Puskesmas , tahun .
3.    Untuk mengetahui gambaran frekuensi diare pada bayi berusia 7-12 bulan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Puskesmas , tahun .

1.4 Manfaat
1.    Bagi puskesmas, sebagai bahan masukan untuk evaluasi program peningkatan pemberian ASI secara eksklusif, sehingga angka kejadian diare dapat ditekan.
2.    Sebagai penambah pengetahuan tentang pemberian ASI bagi masyarakat di lokasi penelitian.
3.    Sebagai pengalaman yang sangat berharga sekaligus tambahan pengetahuan bagi penulis.
4.    Dengan terwujudnya hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran serta referensi bagi rekan-rekan mahasiswa, khususnya para peneliti berikutnya.
silahkan download KTI SKRIPSI
Perbedaan Antara Frekuensi Diare pada Bayi Berusia 7-12 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif dengan yang tidak Mendapat ASI Eksklusif
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Perbedaan Antara Frekuensi Diare pada Bayi Berusia 7-12 Bulan yang Mendapat ASI Eksklusif dengan yang tidak Mendapat ASI Eksklusif

Peran Keluarga terhadap Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum

KTI SKRIPSI
Peran Keluarga terhadap Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis (TB paru) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok usia kerja produktif, kebanyakan dari kelompok sosial ekonomi rendah dan berpendidikan rendah. Meningkatnya kasus HIV/AIDS yang menurunkan daya tahan tubuh juga menyebabkan meningkatnya kembali penyakit TB (reemerging disease) di negara-negara yang tadinya sudah berhasil mengendalikan penyakit ini. Banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan, penderita dengan basil tahan asam (BTA) positif berisiko menularkan penyakitnya pada orang lain. Tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TB. Diperkirakan setiap tahun ada 9 juta penderita TB baru dengan kematian 3 juta orang (Depkes, 2000), 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang dan beban terbesar terutama adalah di Asia Tenggara. Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. (Arif Muttaqin, 2008)
Di Indonesia pada tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun muncul 583.000 kasus baru TB dengan kematian karena TB paru 140.000 (Depkes, 2000). Setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TB paru BTA positif. Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of TuberculosisInfection = ARTI) bervariasi antara 1-2 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk Indonesia 10 – 20 orang akan terinfeksi, walaupun tidak semuanya akan menjadi penderita TB paru (hanya 10% orang terinfeksi akan menjadi penderita TB paru). Hasil Surkesnas tahun 2001 penyakit saluran pernafasan merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan penyakit infeksi pada semua golongan umur, penyakit TB paru penyebab kematian nomor 2 dari golongan penyakit infeksi (Depkes,2002).
Penyakit TB Paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Sebagian besar kuman Tuberculosis menyerang paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman ini berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan dan sering disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. (http://www.Infeksi.Com/articles.di akses 10.12.2009).
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986, TB adalah penyebab kematian nomor 4 sedangkan menurut SKRT tahun 1992, TB sebagai penyebab kematian nomor 2 sesudah penyakit kardiovaskuler dan nomor 1 dari golongan penyakit infeksi. Sedangkan pada saat ini, laporan internasional menunjukan bahwa Indonesia adalah ‘penyumbang’ kasus penderita TB terbesar ketiga didunia, setelah Cina dan India. WHO memperkirakan bahwa setiap tahunnya 175.000 orang meninggal karena TB dari sekitar 500.000 kasus baru dengan 260.000 orang tidak terdiagnosis serta mendapat palayanan yang tidak tuntas. Dan menurut data yang dilaporkan dunia pada tahun 1995, penderita TB diIndonesia berjumlah 460.000 orang, dan angka ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Tahun 2000 insiden TB di dunia akan semakin meningkat dibanding tahun 1995, tujuh puluh persen penderita TB paru berada pada usia produktif (15-54 tahun) dan sebagian besar golongan sosial ekonomi rendah dan diperkirakan kasus BTA positif adalah 241 per 1.000 penduduk sehingga berperan dalam penyebaran penyakit kepada masyarakat luas. (http://www.Infeksi.Com/articles.di akses 10.12.2009).
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Chandra Syafei, program bantuan luar negeri dari Global Fund, yang sempat dihentikan tahun 2007 lalu, membuat pendataan jumlah penderita tuberkolosis (TB) paru sulit ditemukan. Kesulitan pendataan ini semakin diperparah karena kondisi otonomi daerah, sehingga Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra selatan tak bisa langsung menjangkau data yang dimiliki dinas kesehatan di kabupaten / kota. Pada tahun 2006 data jumlah terduga penderita TB paru mencapai 201.691 orang, dengan temuan terduga sebanyak 156.408 orang. Pada tahun tahun 2007 dari jumlah terduga sebanyak 204.171, tetapi terduga yang ditemukan hanya 117.136 orang. "Penurunan jumlah data terduga yang kami temukan ini karena kesulitan memperoleh data yang sebenarnya berapa jumlah penderita TB paru di Sumatra selatan. (http://www.Infeksi.Com/articles.di akses 10.12.2009).
Penularan tuberkulosis melalui udara dengan inhalasi droplet nucleus yang mengandung basil tuberkulosis yang infeksius 14-17 Bayi dan anak yang kontak serumah dengan penderita tuberkulosis dewasa terutama dengan sputum BTA positif yang belum pernah didiagnosa dan diobati merupakan resiko tinggi terinfeksi TB. WHO menganjurkan imunisasi BCG diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah infeksi tuberkulosis. Walaupun efikasi BCG dalam mencegah infeksi tuberkulosis masih diperdebatkan, pada daerah mana angka infeksi tinggi, imunisasi BCG harus dianggap sebagai dari program kontrol tuberkulosis. Di Indonesia imunisasi BCG masih perlu dilaksanakan sebagai usaha untuk mencegah tuberkulosis (http://www.fk.ui.ac.id/guestbook/, di unduh 29.12.2009).
Menurut kalangan dokter dan ahli kesehatan masyarakat, hal itu hanya akan bisa terjadi bila komitmen politik para pengambil kebijakan perlu ditingkatkan agar tersedia cukup sumber daya untuk menanggulangi TB, seperti ketersediaan obat dan sarana diagnosis. Rumah sakit, klinik, dan praktik dokter harus segera diikutsertakan dalam program penanggulangan TB di seluruh Indonesia. Paling tidak, rumah sakit diberi obat gratis untuk penderita TB dan disusun sistem pelaporannya. Bukan hanya mengobati para penderita TB, tapi yang lebih penting adalah mencegah penularannya. Sebab, ternyata lingkungan tempat tinggal yang kumuh serta keadaan ekonomi yang tidak memadai menjadi salah satu sebab sulit terhindarnya masyarakat dari sergapan penyakit menular, terutama tuberkulosis paru-paru. (http://www.infeksi.com/articles.php, di akses 10.12.)
Karena itu, ada dua hal pokok yang perlu segera dipikirkan pemerintah. Pertama pencegahan munculnya penyakit, melalui pembangkitan kesadaran keluarga menjaga kebersihan lingkungan. Dan kedua adalah, membangkitkan kesadaran keluarga agar terbias berobat jika terserang penyakit atau gangguan kesehatan. Perlu diingat, di daerah-daerah terpencil selain masyarakat malas berobat sarana kesehatan dan dokter juga masih jarang. (http://www.infeksi.com/articles.php, di unduh 10.12.)
Menurut medical record RSUP , bahwa penderita tuberkulosis paru pada tahun 2006 dengan jumlah kasus baru sebanyak 439  orang,  pada tahun 2007 dengan jumlah kasus baru sebanyak 253 orang, pada tahun 2008 dengan jumlah kasus baru sebanyak 523 orang, dan bulan januari hhingga bulan september 2009 didapatkan jumlah kasus sebanyak 356 orang. ( medical record RSUP , 2009)
Oleh karena itu penting untuk memeriksakan orang-orang yang kontak erat dengan penderita TB paru. Dalam program pemberantasan penyakit tuberkulosis paru penemuan penderita dilakukan dengan cara pencarian penderita yang tersangka TB ditengah-tengah keluarga baik secara pasif maupun secara aktif, untuk diperiksa riaknya secara mikroskopis langsung. Oleh karena sangat penting ditemukan penderita sedini mungkin untuk diberi pengobatan sampai sembuh sehingga tidak lagi membahayakan lingkungannya. (Depkes RI.2000)
Dari uraian diatas peran keluarga sangatlah diperlukan karena keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan perawat utama bagi klien (Kelliat,1996). Keluarga sangat berperan penting terhadap tanggung jawabnya masing-masing. Peran keluarga merupakan pendorong terjadinya perilaku yang positif dari seseorang, sehingga peneliti merasa perlu mengetahui sejauh mana peran keluarga terhadap pasien Tuberkulosis Paru di IRNA Non Bedah RSUP Tahun .

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang di kemukakan adalah belum di ketahuinya peran keluarga terhadap pasien TB Paru di irna non bedah pada R.S Umum Pusat Tahun .

1.3    Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian yang akan di lakukan adalah bagaimanakah peran keluarga terhadap pasien TB Paru di IRNA Non Bedah pada R.S Umum Pusat Tahun .

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1    Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keluarga terhadap pasien TB Paru di irna non bedah pada R.S Umum Pusat Tahun .

1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Untuk mengetahui bagaimana peran keluarga sebagai pendorong terhadap pasien Tuberkulosis Paru di IRNA Non Bedah RSUP Tahun .
1.4.2.2    Untuk mengetahui bagaimana peran keluarga sebagai perawat keluarga terhadap pasien Tuberkulosis Paru di IRNA Non Bedah RSUP Tahun .
1.4.2.3    Untuk mengetahui bagaimana peran keluarga sebagai Inisiator-Kontributor terhadap pasien Tuberkulosis Paru di IRNA Non Bedah RSUP Tahun .

1.5    Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mempunyai manfaat bagi beberapa pihak :
1.5.1    Tenaga Kesehatan/Perawat
Agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien, memberikan informasi yang akurat dan adekuat tentang peran keluarga terhadap pasien Tuberkulosis Paru di IRNA Non Bedah RSUP Tahun .

1.5.2    Instansi Pendidikan
Sebagai bahan masukan pengembangan ilmu pengetahuan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah .
1.5.3    Peneliti
Merupakan bahan informasi dan perbandingan untuk penelitian kasus tersebut dimasa yang akan datang

1.6    Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam konteks Keperawatan Medikal Bedah dimana komponen yang dilihat adalah peran keluarga yang menjadi bagian penting saat penderita dengan Tuberkulosis Paru di IRNA Non Bedah RSUP yang di rencanakan pada tanggal 22 Februari – 29 Maret .
silahkan download KTI SKRIPSI
Peran Keluarga terhadap Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum
KLIK DIBAWAH 
READ MORE - Peran Keluarga terhadap Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum

Arsip Blog

tes