Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan Ibu tentang Buang Air Besar Fisiologis pada Neonatus di Wilayah Puskesmas

KTI SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU TENTANG BUANG AIR BESAR FISIOLOGIS PADA NEONATUS DI WILAYAH PUSKESMAS

ABSTRAK
Pada saat minggu-minggu pertama usia bayi atau disebut dengan neonatus, bayi akan memiliki pola BAB yang bervariasi. Bayi akan mengalami sering BAB, setiap kali sesudah makan atau lebih sering, tinja encer seperti kerak susu, ataupun warna tinja yang bervariasi, misalnya tinja berwarna hijau. Hal ini wajar terjadi pada bayi usia minggu¬minggu pertama (neonatus), atau dikatakan BAB bayi fisiologis. BAB yang tidak seperti biasa ini, menurut Ibu tidak wajar, sehingga Ibu khawatir dan cemas, Ibu berfikir bahwa ini terjadi karena ada gangguan pada pencernaan bayi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan Ibu tentang BAB fisiologis pada neonatus. Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti. Dalam penelitian ini, sampel yang diambil adalah Ibu yang mempunyai bayi usia 0-28 hari yang pernah dan sedang mengalami BAB yang tidak seperti biasa, misalnya frekuensi BAB yang sering, warna feses bervariasi, atau konsistensi tinja encer. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 13-20 Juli 2008. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil perhitungan dari 24 responden, didapatkan harga rho hitung = 0,73 0 dan harga rho tabel dengan N = 24 = 0,409, maka tampak bahwa rho hitung lebih besar dari rho tabel sehingga hipotesis diterima, "Ada hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan Ibu tentang BAB fisiologis pada neonatus".
Kata Kunci : Pengetahuan, BAB Fisiologis, Kecemasan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring bertambahnya usia bayi baru lahir, maka bayi baru lahir akan memiliki pola Buang Air Besar (BAB) yang bervariasi. Ketika bayi melakukan penyesuaian untuk mendapatkan makanan dari ASI atau susu formula, sistem pancernaannya juga akan perlu waktu untuk menyesuaikan. Pada awalnya ia mungkin sering buang air besar, terjadi setiap kali sesudah makan atau lebih sering lagi, dan tinjanya encer, seperti kerak susu. Warnanya bervariasi, dan pengeluarannya bisa sangat kuat. Ini semua adalah ciri normal dari bayi anda. Meskipun tinjanya encer, sejauh ia tampak tenang dia tidak di katakan diare (Kelly, Paula, 2002).
Umumnya, bayi akan buang air besar kurang lebih 2-5 kali sehari hingga usia 6- 8 minggu. Tinja berbentuk cair seperti bubur, warnanya pun bervariasi dari kuning hingga kuning kehijauan. Karena bayi terkesan sering buang air besar, maka tak jarang banyak orang tua yang khawatir bayinya mengalami diare, bahkan beberapa bayi ASI akan buang air besar setiap kali selesai menyusu. Dalam 4 hari pertama ASI banyak mengandung kolostrum yang sifatnya seperti pencahar, sehingga jangan heran bayi-bayi yang mendapat ASI eksklusif, sejak awal buang air besarnya sering seolah¬olah menderita diare. Dalam sebuah literatur, bahkan di katakan ada bayi yang buang air besar dalam 1 hari mencapai 20 kali namun tetap normal. Orang tua yang tidak mengerti keadaan ini tentunya akan menganggap bayinya diare atau mencret, untuk itu perhatikan keadaan sikecil, bila tidak rewel, anteng-anteng saja, dan tidak gelisah, maka kemungkinan besar bayi tidak diare. (www.mahadewi.blogsome.com. 2006)
Saat bayi memasuki minggu pertama hingga kedua, pola buang air besar akan berkarakteristik, feses bayi lebih encer dan lebih sering, terutama jika anda menyusui sendiri. Ini normal, bukan diare dan tidak membutuhkan pengobatan apapun, akan tetapi, jika berat badan bayi tidak bertambah, konsultasikan dengan dokter. (Lyen, Kenneth. 2005).
Menurut dr.Eva J.Soelaeman, SpA Frekwensi BAB normal pada bayi usia 0-6 bulan, pada bayi yang menyusu ASI adalah sehari 1-7 kali atau bahkan 1-2 hari sekali, dengan catatan berat badan bayi terus bertambah sesuai grafik normal yang tertera pada Kartu Menuju Sehat. Jika terjadi sebaliknya, si kecil harus menjalani pemeriksaan dokter
Saat bayi memasuki usia sekitar lebih dari 6 minggu, pola buang air besar akan berubah. Awalnya orang tua khawatir karena bayinya sering buang air besar, namun beberapa minggu kemudian terjadi kekhawatiran yang sebaliknya yaitu orang tua khawatir bayinya mengalami sembelit. Pada usia ini bayi akan jarang buang air besar, kondisi seperti ini normal terjadi pada bayi yang mengkonsumsi ASI. Hal ini di sebabkan ASI di serap sempurna oleh bayi maka tidak ada ampas yang di buang dalam bentuk tinja. Untuk membedakan hal itu normal atau tidak, lakukan perabaan pada perut bagian kiri, jika tidak ada benjolan, maka memang tidak ada yang perlu di keluarkan dari perut si bayi (Soraya, Luluk. Baby Care. Tags: BAB Bayi ASI. 2008 Februari 21).
Bukan hanya soal frekuensi, warna dan bentuk feses yang berbeda dari biasanya juga kerap menimbulkan kecemasan tersendiri, sebab itu ibu perlu mengenal bagaimana warna dan bentuk feses pada bayi yang masih dikatakan normal. (Kenali warna dan bentuk feses bayi. 26 Februari 2008).
Pada kenyataannya warna feses tergantung pada jumlah air empedu yang dikeluarkan dari kantong empedu, semakin banyak air empedu yang dikeluarkan semakin hijau feses bayi. Baik feses berwarna hijau atau kuning itu semua masih dikatakan normal. (Lyen, Kenneth. 2005).
Dari study pendahuluan pada saat Praktek Kerja Lapangan pada tanggal 10-29 Maret, di Polindes  didapatkan data sebanyak 9 bayi yang berusia 0-28 hari, 4 Ibu diantaranya mengatakan bahwa bayinya Buang air besar lebih dari 5x dalam 1 hari, di sertai konsistensi encer, sehingga Ibu menganggap bayinya terkena diare. Sedangkan 2 Ibu, mengatakan bayinya mengeluarkan feses berwarna agak kehijauan, dengan konsistensi lembek, karena Ibu beranggapan bahwa bayi selalu mengeluarkan feses berwarna kuning, sehingga Ibu merasa khawatir dengan hal tersebut. Karena kejadian hal di atas, Ibu beranggapan bahwa bayinya mengalami diare, gangguan pada system pencernaan atau bahkan menganggap Ibu sendiri yang salah makan, sehingga Ibu tarak terhadap suatu makanan tertentu.
Dari data yang didapat di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan Pengetahuan Dengan tingkat Kecemasan Ibu Tentang Buang Air Besar Fisiologis Pada Neonatus.

1.2 Masalah Penelitian
Dari latar belakang diatas maka masalah penelitian adalah "Apakah ada hubungan pengetahuan Dengan tingkat Kecemasan Ibu tentang Buang Air Besar Fisiologis Pada Neonatus.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum :
Ingin mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan tingkat kecemasan Ibu tentang buang air besar fisiologis pada neonatus.
1.3.2 Tujuan khusus :
a.    Mengidentifikasi pengetahuan Ibu tentang Buang Air Besar pada neonatus.
b.    Mengidentifikasi tingkat kecemasan Ibu terhadap Buang Air Besar yang dialami neonatus.
c.    Menganalisa hubungan pengetahuan dengan tingkat kecemasan Ibu tentang buang air besar fisiologis pada neonatus.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti :
- Dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah didapat
- Diharapkan dari hasil penelitian dapat digunakan untuk bekal peneliti selanjutnya dalam bekerja di masyarakat.

1.4.2 Bagi Institusi.
Dapat digunakan sebagai tambahan refrensi dan wacana di lingkungan pendidikan dan sebagai bahan kajian lebih lanjut, terutama pada penelitian selanjutnya yang sejenis.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian :
Dapat digunakan bekal tambahan dalam memberikan pengetahuan tambahan kepada Ibu; khususnya Ibu dari bayi Neonatus, sehingga pengetahuan Ibu tentang bayi dapat meningkat, terutama tentang masalah BAB fisiologis pada bayi, sehingga kekhawatiran Ibu berkurang.
silahkan download KTI SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU TENTANG BUANG AIR BESAR FISIOLOGIS PADA NEONATUS DI WILAYAH PUSKESMAS
KLIK DIBAWAH 

Tidak ada komentar:

Arsip Blog

tes