Gambaran Ketepatan Pola Asuh Ibu dalam Pendidikan Seks Anak Pra Sekolah Usia (4-6 Tahun) di Desa

KTI SKRIPSI
GAMBARAN KETEPATAN POLA ASUH IBU DALAM PENDIDIKAN SEKS ANAK PRA SEKOLAH USIA (4-6 TAHUN) DI DESA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemandirian anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga orang tualah yang membimbing, mengasuh untuk menjadi mandiri, kebanyakan anak yang mempunyai kepribadian dewasa dan matang ternyata dia mendapat kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tua waktu kecil (Guttmacher, 2008).
Dari data yang dihimpun Departemen Pendidikan Nasional dari sekitar 26,1 juta anak di Indonesia usia 0-6 tahun baru 28% yang memperoleh pendidikan dini. Jumlah anak pra sekolah di Jawa timur tahun 2005 sebesar 3.477.451 anak, tahun 2006 3.441.323 anak, sedangkan tahun 2007 3.418.455 anak. Dinas Kesehatan Kota. Pada tahun 2005 di tingkat nasional anak usia dini yang sudah dilayani baru 17,2%. Jumlah itu meliputi 12,6% anak yang sudah terlayani dan mengakses pendidikan di taman kanak-kanak dan 0,1% ditempat penitipan anak. Di Jakarta masih ada 82,80% anak usia 1-6 tahun yang belum terlayani dengan pendidikan pra sekolah / pendidikan anak usia dini (PAUD). Pemerintah menargetkan tahun 2007 jumlah pendidikan anak usia dini yang mendapatkan PAUD usia 0-6 tahun sebanyak 28,4 juta anak dan usia 2-4 tahun sebanyak 12,1 juta anak.(Stevani Elisabeth, 2008). Jumlah anak prasekolah di Kota tahun 2005 sebesar 7.413 anak, tahun 2006 sebesar 3.441 anak, sedangkan 2007 7014 anak. Dinas Kota.
Kasih sayang dari kedua orang tua merupakan fondasi kehidupan bagi si anak dan menjadi modal utama rasa aman, terlebih ketika dia mengeksplor dunianya Orang tua yang biasa mengungkapkan rasa cinta kasih melalui pelukan, sentuhan belaian, senyuman, dukungan, mendengarkan keluh kesah, dan celotehan serta meluangkan waktu bermain dengan si kecil berdampak baik terhadap perkembangan mental si kecil sedangkan cara mengasuh ibu dengan hukuman, kekerasan berdampak jelek terhadap perkembangan mental anak. (Oicilia, 2007)
Di Amerika telanjang di rumah (di kamar mandi/di tempat tidur) adalah baik dan cara yang sehat mengenalkan seksualitas bagi anak yang masih kecil (di bawah 5 tahun). Survei yang dilakukan secara nasional sejak 2002 melibatkan 1.700 anak pra sekolah yang menerima pendidikan seks secara komprehensif dirumah terhindar dari penyimpangan seks/ tidak ingin melihat TV/ VCD porno sebesar 60% anak, 40% anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan seks dirumah ingin mencoba-coba karena mengganggap hal itu wajar/ lumrah ditonton untuk kalangan anak-anak seusianya (Boyke, 2008). Di Indonesia 80% ibu tidak sanggup memberikan pendidikan seks di rumah alasannya mereka tidak tahu apa yang harus dan layak disampaikan, sedangkan pada tahun 2006. 60% ibu beranggapan sesuatu yang berkaitan dengan seks itu porno dan tabu, saat orang tua ditanya anak tentang seks umumnya tidak dapat berbicara, menjawab dengan marah dan menganggap anak tidak sopan. Hanya 25% ibu yang memberikan pendidikan seks dini dengan dibacakan, melihat gambar¬gambar sambil diterangkan dari buku dongeng-dongeng, nyanyian anak, dll. (Gordon, 2008).
Seks bebas di kota-kota besar sudah melampaui batas, tahun 2006 tepatnya di Ambon anak berusia dibawah 10 tahun memperkosa anak usia 5 tahun dan terpaksa dipenjara 4-5 bulan. (Guttmacher, 2008).Lembaga internet survei terkemuka yakni Topten Reviews.com menyebutkan bahwa 80% anak sudah biasa menonton acara porno. Hal tersebut di atas sangatlah memprihatinkan. Sehingga perlu perhatian khusus dalam pendidikan mereka karena hal tersebut menentukan kualitas sumber daya manusia di masa datang.
Hasil studi pendahuluan di desa pada bulan Maret diperoleh data bahwa terdapat anak pra sekolah sebanyak 148 anak. Setelah dilakukan studi lebih lanjut, dari hasil wawancara pada 10 anak pra sekolah diperoleh data bahwa 10 anak tersebut sudah pernah menonton acara televisi orang dewasa, 8 dari 10 anak sudah mengenal istilah pacaran.
Dari fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk membuat karya tulis yang berjudul “Gambaran ketepatan pola asuh ibu dalam pendidikan seks anak pra sekolah usia (4-6 tahun) di Desa”

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti menarik suatu rumusan masalah penelitian sebagai berikut :
“Bagaimanakah Gambaran Ketepatan Pola Asuh Ibu Dalam Pendidikan Seks Anak Pra Sekolah usia 4-6 tahun di Desa ?.”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran ketepatan pola asuh ibu dalam pendidikan seks anak pra sekolah usia (4-6 tahun) di Desa.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui ketepatan pola asuh ibu dalam pendidikan seks anak pra sekolah usia (4-6 tahun) di Desa.
1.3.2.2 Mengetahui macam-macam pola asuh ibu dalam pendidikan seks anak pra sekolah usia 4-6 tahun di Desa.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan wawasan dan
pengetahuan ibu mengenai ketepatan pola asuh dalam pendidikan seks anak pra sekolah di Desa.
1.4.2 Bagi Peneliti
Dapat memberikan pengetahuan peneliti dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan metode penelitian sehingga dapat meningkat kemampuan analisis terhadap suatu masalah dan menentukan pemecahannya.
1.4.3 Bagi Institusi
Dapat memberikan informasi baru bagi pendidikan dan mahasiswa Prodi Kebidanan mengenai ketepatan penerapan pola asuh ibu dalam pendidikan sek anak pra sekolah sehingga dapat digunakan untuk penelitian-penelitian berikutnya.
silahkan download KTI SKRIPSI
GAMBARAN KETEPATAN POLA ASUH IBU DALAM PENDIDIKAN SEKS ANAK PRA SEKOLAH USIA (4-6 TAHUN) DI DESA
KLIK DIBAWAH 

Tidak ada komentar:

Arsip Blog

tes